Suluk-suluk Sunan Bonang


Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.
Apa itu suluk? suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).


Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (Ibid).
Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).
Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.
Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, yaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia yaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat diumpamakan seperti kesatuan transenden antara tindakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamaan ini dapat dirujuk kepada perumpamaan serupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mukmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

Suluk Jebeng
Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil
Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil (SW). Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.
Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.

Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba
2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun
Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada
3
Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan

4
Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada
5
Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning
Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora
Artinya, lebih kurang:
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahasia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya Sudah
Wujil Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblat dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu unik, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.

Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat
7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta
8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman
9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira
… 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama
Artinya lebih kurang:
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Ked,ua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).

sumber : http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-1.html,

http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-2.html,

http://ilalangkota.blogspot.com/2011/04/suluk-wragul-sunan-bonang.html

Iklan

Mari Nembang untuk si Mungil dengan lagu-lagu Jawa


oleh : http://kedaipuisi.wordpress.com

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.

Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.

Gambang Suling…
Gambang suling kumandhang swarane…
Thulat-thulit kepenak unine…
Unine mung nrenyuhake…
Bareng lan kentrung….
Ketipung suling sigrak gambangane….

 

 

Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.

Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.

Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;

Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan

untuk makna dari gundul-gundul pacul bisa dilihat di :(klik pada logo)

 

 

Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit

untuk makna dari sluku-sluku bathok : (klik logo)

Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.

Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.

Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.

Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.

Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.

Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay

Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.

Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter

Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.

Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.

Bagaimana dengan Ibu-ibu?? atau bapak-bapak yang punya ibu atau istri…hehe, mari nembang untuk si mungil.

Selanjutnya ini ada postingan juga, yamg ngebahas tentang tembang dolanan jawa :

oleh : http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

Mungkin untuk generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengenal Lagu Dolanan (jawa) ini, terutama yang lahir diluar daerah jawa tentunya. Tetapi untuk bapak atau eyang kita tentu sangat akrab dengan lagu dolanan karena memang pada jaman dulu permainan modern belum banyak atau bahkan belum ada seperti Play Station misalnya yang menurut saya membuat anak menjadi individualistis atau senang menyendiri.
Dibanding dengan anak-anak masa dulu yang senang berkumpul melakukan kegiatan diluar rumah.

Berikut sebagian “Lagu Dolanan” yang masih saya ingat :

CUBLAK-CUBLAK SUWENG
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong

Sluku-sluku bathok
Sluku-sluku bathok
bathoke ela-elo
si romo menyang solo
oleh-olehe payung moda
tak jenthir ololobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip nggoleko dhuwit

Gotri nagasari
gotri legendri nogosari, ri
riwul iwal- iwul jenang katul, tul
tulen olen-olen dadi manten, ten
tenono mbesuk gedhe dadi opo, po
podheng mbako enak mbako sedeng, deng
dengklok engklak-engklok koyo kodok

Dayohe Teka
Ei.., dayohe teko,
Ei.., jerengno kloso,
Ei.., klosone bedah,
Ei.., tambalen jadah,
Ei.., jadahe mambu,
Ei.., pakakno asu,
Ei.., asune mati,
Ei.., guwangen kali,
Ei.., kaline banjir
Te Kate Dipanah
Te kate dipanah
Dipanah ngisor gelagah
Ana manuk konde-onde
Mbok sirbombok mbok sirkate
Mbok sirbombok mbok sirkate

Gek kepriye
Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah diece
Karo kanca kancane
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe

Pitik Tukung
Aku duwe pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gok petok petok ngendok pitu
Tak ngremake netes telu
Kabeh trondol trondol tanpa wulu
Mondol mondol dol gawe guyu

Ilir-ilir
Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir Tak ijo royo royo..taksengguh temantèn anyar
Cah angon.cah angon..pènèkké blimbing kuwi , Lunyu-lunyu ya pènèken kanggo masuh dodotira
Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir Dondomana jlumatana kanggo séba méngko soré Mumpung padhang rembulané
Mumpung jembar kalangané Ya suraka..surak horéé

Kate – Kate Dipanah
Te kate dipanah
dipanah ngisor nggelagah
ana manuk ondhe ondhe
Mbok sir bombok bok sir kate
Mbok sir bombok mbok sir kate

Menthok – menthok
Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Kupu Kuwi
Kupu kuwi tak encupe
Mung abure ngewuhake
Ngalor-ngidul
Ngetan bali ngulon
Mrana-mrene mung sak paran-paran
Mbokya mencok tak encupe
Mentas mencok clegrok
Banjur mabur kleper

Cempa
Cempa rowa
Pakananmu apa rowa
Tuku gendhing ndhing ndhing ndhing
Rowang rawing wing wing wing
Bong kecebong jarane jaran bopong
Sing nunggangi Semar Bagong
Ecrek-enong ecrek-egung ecrek-enong ecrek-egung

Jago Kate
Jago kate te te te
Kukukluruk … kok
Amecece ce ce ce
Kukukluruk
Dibalang watu bocah kuncung
Keok … kena telehe
Njranthal … pelayune
Mari umuk mari ngece
Si kate katon nyekukruk

PADANG MBULAN
Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

JAMURAN
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…
jamur apa ya ge ge thok…
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?

KODOK NGOREK
Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali
teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung
Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter
bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo

KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil…
si kidang mangan lembayung

DONDHONG APA SALAK
dhondhong apa salak dhuku cilik cilik
gendong apa mbecak mlaku thimik thimik
adhik ndherek ibu tindak menyang pasar
ora pareng rewel ora pareng nakal
mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
kacang karo roti adhik diparingi

PITIK TUKUNG
Aku duwe pitik, pitik tukung..
saben dina, tak pakani jagung
petok gogok petok petok ngendhog siji,
tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol..
tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu…

JARANAN
jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei
sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung
prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing
prok prok gedebug jedher

GUNDHUL-GUNDHUL PACUL
Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan
nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

MENTHOK-MENTHOK
Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,
angisin-isini mbok yo ojo ngetok,
ono kandhang wae enak-enak ngorok,
ora nyambut gawe
menthok, menthok …
mung lakukumu megal megol gawe guyu

GAMBANG SULING
Gambang suling, ngumandhang swarane
tulat tulit, kepenak unine
uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangane

SUWE ORA JAMU
Suwe ora jamu
jamu godong tela
suwe ora ketemu
ketemu pisan gawe gela

TAK LELO LELO LEDUNG
tak lelo lelo lelo ledung…
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadarikaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..

Ada yang mau nambahi, lah su Monggo,…!!! hehe…


Sumber :

– http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/05/belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://www.lazis.info/perlu-kita-tahu/196.html

– http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

– http://kyaicengkir.wordpress.com/2011/09/22/httpsosbud-kompasiana-com20100805belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://punyabagus.blogspot.com/2008/06/rek-ayo-rek.html

– http://gombhalmukiyo.blogdetik.com/makna-di-balik-tembang-gundul-gundul-pacul/

Gendingan, Dahulu dan Kini


 

Tradisi budaya Jawa jaman dahulu selalu berprinsip pada keselarasan alam semesta. Dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua mengajarkan anak-anaknya lewat tembang atau nyanyian. Dengan syair berisi nilai-nilai falsafah hidup, pitutur atau nasihat, pengajaran moral ini ditanamkan lewat lagu-lagu yang diselaraskan dengan alam dan keadaan sekitarnya.

 

Gendingan diciptakan sebagai ungkapan keselarasan manusia dan penciptanya. Ini diwujudkan dalam tindakan sehari-hari dengan memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak. Dalam gamelan hal tersebut diwujudkan pada tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron, kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Ada berjenis-jenis gendingan, ada yang khusus dan ada yang umum. Yang umum adalah yang hadir di masayarakat kebanyakan, dengan tembang-tembang kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang khusus adalah dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Contohnya pada saat upacara pernikahan, saat mengiringi pengantin masuk diiringi dengan tembang “Kebo Giro”, saat mempelai saling bertemu diiringi dengan tembang “Kodok Ngorek”. Ada lagi, pada acara-acara khusus di kerajaan/kesultanan. Gendingan dimainkan secara khusus, dengan syair khusus dan juga gamelan yang khusus.

Gamelan, adalah alat musik gendingan, diambil dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul/menabuh. Jadi gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang ditabuh/dipukul untuk dimainkan bersama. Seperangkat alat musik ini terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking/Gamelan, Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab, Siter, Suling.

Mengenai sejarah terciptanya gamelan sendiri masih simpang siur. Namun dipastikan bahwa gamelan diciptakan pada saat budaya Hindu – Budha dari India berjaya di Indonesia. Ini dibuktikan dengan adanya data-data pada relief Candi Borobudur dan kitab-kitab kesusastraan yang menjadi petunjuk tentang keberadaan gamelan ini. Dalam perkembangannya, gamelan mengalami banyak perubahan menjadi semakin baik hingga seperti sekarang, tetapi tetap mencirikan budaya bawaanya yang sampai sekarang masih menjadi cirri khan gendingan ini, salah satunya adalah istilah bagi penyanyinya, yaitu Wiraswara untuk penyanyi pria, danWaranggana untuk penyanyi wanita.

Menurut Mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dengan alat musik gamelan pertama yang diciptakan adalah “Gong” yang berfungsi sebagai pemanggil para dewa. Kemudian berkembang sebagai penyampai pesan, dimana alat musiknya pun bertambah.

Saat ini gendingan sudah mendunia, dikenal luas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Canada. Tentunya sebagai generasi pewaris budaya, kita harus lebih peduli menjaga dan melestarikan kekayaan tradisional leluhur. Kitalah yang harusnya lebih mencintai dibandingkan bangsa lain.

***

Dari :

 

 

Diolah dari berbagai sumber.

Sumber gambar: http://sekarjowo.blogspot.com

 

2 Oktober 2011, adalah hari batik Indonesia di tahun ke tiga


Hari ini 2 Oktober,tiga tahun lalu tepatnya 2009 United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) mengakui batik sebagai milik Indonesia. Penghargaan juga langsung diberikan UNESCO di Abu Dhabi, 2 Oktober tahun 2009. Dalam rangka merayakan momentum pengakuan dunia atas Batik sebagai Hak Milik Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencanangkan 2 Oktober sebagai Hari Batik.

Batik identik dengan kebudayaan tradisional milik Bangsa Indonesia sejak dulu kala. Batik menurut yang saya kutip dari wikipedia yaitu: Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing.

Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

ada sebuah artikel dari koran sindo :

Jangan Sekadar Simbol, Batik Harus Bisa Menyejahterakan Masyarakat

Anggota Dekranasda Jawa Barat bersepeda dengan mengenakan pakaian batik melintasi Jalan Banda, Kota Bandung, kemarin.

Bersepeda dengan mengenakan busana batik, mengapa tidak? Itu yang kemarin dilakukan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat (Jabar).

Menggelorakan semangat batik sebagai identitas bangsa,Dekranasda Jabar menggandeng komunitas Bike to Work Bandung bersepeda menyusuri jalanan dari Gedung Pakuan di Jalan Otto Iskandardinata menuju Gedung Sate, Jalan Diponegoro,Kota Bandung. Acara berlangsung semarak. Iring-iringan pesepeda berseragam batik ini pun menyita perhatian warga.“Mencintai dan bangga pakai batik, terutama bagi kalangan generasi muda,harus terus digelorakan. Karena itu kita akan terus kampanyekan penggunaan batik ini,”ujar Ketua Dekranasda Jabar Nett Heryawan kemarin.

Menurut dia,eventuntuk menyambut Hari Batik Nasional 2 Oktober ini sekaligus untuk menyosialisasikan regenerasi pembatik agar tidak punah.“ Dengan semakin banyak masyarakat memakai batik, tentu akan membuat industri batik bertahan hidup,”imbuhnya. Acara puncak peringatan Hari Batik Nasional akan diselenggarakan di Pekalongan,Jawa Tengah.Pekalongan dipilih karena menjadi salah satu daerah penghasil batik di Indonesia. Ibu Negara Ani Yudo-yono dan sejumlah menteri dijadwalkan hadir dalam acara tersebut dengan agenda mengunjungi museum dan sentra batik.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengatakan,upaya melestarikan batik tidak bisa hanya dengan mengembangkannya, tetapi harus mampu memanfaatkan agar khasanah Nusantara ini bisa menjadi alat menyejahterakan rakyat. Wacik menilai,bila berhenti pada pelestarian,rakyat hanya akan mendapatkan kebanggaan,te-tapi tidak keuntungan material.

“Karya-karya budaya seperti batik,apabila benar me-nanganinya,akan didapatkan nilai ekonominya. Karena itu semakin banyak yang menggunakan batik,itu (nilai ekonomi) akan mengalir ke perajin,”ungkap Wacik pada eventWorld Batik Summit 2011di Jakarta kemarin. Wacik mengatakan,dokumen UNESCO mengenai pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia sudah disimpan di lembaga arsip nasional.

Dengan demikian apabila ada bangsa lain yang hendak mengakui batik sebagai warisan budaya miliknya bisa terbantahkan dengan bukti legal tersebut.Mengenai adanya negara-negara lain yang memproduksi batik,Wacik menyebut hal itu bukan masalah.”Dunia sudah tahu bahwa asal batik adalah dari Indonesia,”tegas menteri dari Partai Demokrat ini. Batik diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 2 Oktober 2009.Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Dari aspek ekonomi,batik terus menjadi primadona bagi perkembangan industri kreatif di Tanah Air.Penjualan batik meningkat dari Rp2,9 triliun pada 2006 menjadi Rp3,9 triliun Rp3,9 triliun pada 2010. Nilai ekspor batik melonjak 56% dari USD16,3 juta pada 2006 menjadi USD22,3 juta pada 2010. TANTAN SULTHON/ DYAH PAMELA

Sumber :

– (http://yaayaat.wordpress.com/2010/10/02/selamat-hari-batik-nasional-2-oktober-2010/)

– (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/432206/)

SELAMAT HARI BATIK INDONESIA.

Jawa dalam agama dan budaya


Oleh :: Rangga Dusy

Sebagian besar orang Jawa berusaha menyelaraskan berbagai konsep pandangan leluhurnya dengan tata cara yang diajarkan Islam. Hal ini bisa dilihat dari penyaduran orang Jawa dengan alam kodrati (dunia fana) dan alam adi kodrati (alam gaib), sehingga lahirlah ritual ruwatan Jawi-Islami yang mengusung konsep Islami namun tetap dibumbui tradisi dan adat Jawa. Seperti halnya larung (sesaji yang biasa dipersembahkan di laut atau sungai-sungai besar), kendhuri atau selamatan (melakukan doa bersama dan bersedekah sebagai ungkapan rasa syukur atau agar diberi keselamatan), dan sebagainya.

Jauh sebelum agama-agama masuk ke Jawa, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal dan berkeyakinan bahwa ada seseorang atau sesuatu yang menjadikan dan mengatur alam serta seisinya yang layak untuk dijadikan Tuhan. Sehingga ketika agama-agama baru masuk ke Jawa, tak pernah sedikitpun terjadi bentrokan yang disebabkan dari penolakan masuknya agama tersebut. Karena sudah menjadi tabiat orang Jawa dulu, mereka tak pernah berpikir tentang imbas akulturasi ataupun asimilasi yang sehingga bisa melunturkan adat-istiadat yang sudah terlaku turun temurun.


Pola berpikir seperti ini tak lain merupakan upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara sesama makhluk yang tersebar di jagat raya ini, lantas membawanya ke suatu pengembaraan yang tak pernah berhenti. Sehingga ketika ada hal-hal baru yang mereka anggap bisa menunjukan jalan menuju titik cerah perjalanannya, pastilah mereka ikuti. Sebagaimana pengembaraan iman yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as. ketika pertama kali beliau keluar dari goa persembunyiannya. Saat melihat bintang, beliau berkata: “Inilah Tuhanku,” kata Nabi Ibrahim. Namun, ketika tenggelam beliau berkata, “Tuhanku bukanlah yang tenggelam.” Kemudian ketika bulan muncul, maka beliau berpikir bahwa Tuhan adalah bulan. Demikian pula ketika bulan tenggelam dan terbitlah matahari, beliau beranggapan bahwa Tuhan adalah matahari, karena lebih besar dan terang. Setelah semua hilang dan redup silih berganti, terbukalah beliau bahwa Tuhan bukanlah seperti yang dipersekutukan para kaumnya (Lihat QS. Al-An’am 76-69).

Begitu pula yang terjadi pada orang Jawa pra-agama. Dari pengembaraan mereka mencari kebenaran Sang Hyang Murbaning Dumadi, muncullah beberapa keyakinan seperti halnya animisme dinamisme, yaitu penyembahan terhadap roh dan benda-benda yang memberi tuah dan memiliki kekuatan. Kepercayaan seperti ini terjadi, karena mereka berfikir bahwa adanya perjalanan alam dan isinya ini tentu ada yang menciptakan dan mengatur agar terjadi stabilitas antar sesama. Faktor seperti inilah yang menjadikan masyarakat Jawa dapat cepat beradaptasi dengan kedatangan agama-agama yang baru.

Cara berinteraksi budaya Jawa dengan Islam tergolong unik. Dalam penyebutan apapun yang diyakini suci atau dipandang mulia, mereka memberikan sebuah apresiasi maha tinggi, sebagaimana penyebutan Tuhan dengan Gusti Allah Ingkang Murbaning Dumadi dan juga keyakinan bahwa Rasul Saw sangat dekat dengan Allah, sehingga hampir dalam semua upacara ritual mereka selalu menyebutkan nama Allah Kang Moho Kuwaos dan Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sumare wonten siti Madinah (Koentjaraningrat)
Peng-islam-an masyarakat Jawa tidaklah terlalu sulit. Karena, selain penyebar Islam kala itu kebanyakan adalah kalangan Islam sufi yang tidak membekali diri dengan ilmu kepemimpinan dan tidak menginginkan kepemimpinan, juga dilatar belakangi jiwa seni dan sastra masyarakat Jawa. Sehingga ketika para Walisongo dengan dipandegani Sunan Kalijaga menyebarkan agama dengan media seni wayang, gamelan, dan sastra Arab, yang dibaurkan dengan budaya Jawa, dapat diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Tingginya nilai seni dan sastra bagi masyarakat Jawa telah ada sebelum agama Islam masuk. Dengan bukti adanya candi dan relif-relif kuno, serta banyaknya kaligrafi ukir dan serat yang dibuat oleh para pujangga. Setelah Islam masuk, kesenian dan kesustraan Jawa mulai dikolaborasikan oleh Walisongo. Dimulai pertama kali dengan wujudnya seni wayang dan gamelan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga tersebut, berlanjut dengan sastra yang diramu oleh Sunan Kalijaga dalam media dakwahnya.

Sesaat setelah kolonial Belanda merangsek masuk ke Indonesia, kesenian dan kesustraan Jawa mulai tersisihkan. Karena kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh pemerintah kolonial saat itu memang menyulitkan masyarakat untuk berkutat di bidang seni dan sastra. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang merasa prihatin dengan kondisi demikian. Kala itu, sedikit demi sedikit Sultan Agung mulai membuat strategi guna merangsang para pujangga Jawa untuk mengimprovisasikan sastra. Guna menggairahkan jiwa seni dan sastra, Sultan Agung mencoba membaurkan sastra Arab dari lingkungan pesantren dan sastra Jawa dari budaya kejawen. Akhirnya, strategi Sultan Agung itu berhasil, sehingga muncullah hasil kreatifitas para pujangga yang dituangkan dalam bentuk tembang macapatan dan serat seperti halnya serat centhini, babad tanah demak, dan lain sebagainya.

Kemudian kala seni dan sastra Jawa mulai bangkit lagi dengan pembauran berbagai bahasa dan budaya, maka timbullah sastra Jawa yang digubah kembali dengan menyatukan sastra Jawa kuno yang diperhalus dengan unsur-unsur yang berbau sufistik. Sebagaimana ramalan-ramalan Ranggawarsita tentang kejadian alam yang disarikan dari al Quran dan Hadis.

Terahir, sebagaimana ;

“Tumindakho kang djudjor marang roso siro. Awet roso kuwi tjahyoning Gusti kang moho sutji. Kang manggon ono ing rogo siro, odjo diregetake.”

                                                             

Petilasan Joyo boyo di Kediri

Arti bebasnya kurang lebih demikian; berbuatlah jujur pada dirimu sendiri, karena dari situlah munculnya cahaya Tuhan yang Maha Suci, yang menetap dalam ragamu. Janganlah kau kotori.

(http://misykat.lirboyo.net/jawa-dalam-agama-dan-budaya/)

Wayang, Agama dan Budaya


Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau jawa dan pulau Bali.

Unesco, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanit).

Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Dalam daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.

Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Begitu juga ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber cerita berasal dari Alkitab.

Dalam islam, wayang merupakan tontonan dan juga tuntunan.

Seperti dalam artikel yang telah diterbitkan Majalah Misykat, 24 0ktober 2011 oleh : Rangga Dusy

Kehidupan manusia sepertinya tak dapat dipisahkan dari ibarat atau simbol. Salah satu simbol penting yang bersentuhan langsung dengan gerbang kehidupan manusia adalah wayang. Segala macam yang berhubungan dengan wayang, mulai dari adegan dan lakon, wayang kulit, peralatan pentas (blencong, beber, dll), pembabakan waktu, dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir (batang pisang untuk menancapkan wayang), semuanya memiliki makna penting yang sayang untuk tidak diketahui dan dilestarikan.

Wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang suku Jawa tentang kehidupan manusia. Mereka meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi atau bayangan (jawa; Wewayangan/ wayang). Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen (animisme). Namun setelah agama-agama masuk ke Jawa, wayang berubah wujud menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan muncullah nama-nama lakon yang disesuaikan oleh agama-agama yang mengusung dan bermetamorfosis dengan perkembangan zamannya.

Menurut Prof. Dr. Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, “Wayang merupakan kebudayaan asli dari orang Jawa.” Wayang juga merupakan satu-satunya kebudayaan yang memasyarakat, karena dalam wayang tidak mengenal istilah kultur ataupun kasta. Seperti dikatakan oleh Sigmund Frued, “Kebudayaan Indonesia menunjukkan dorongan yang lebih manusiawi. Historis kebudayaan Indonesia menampakkan pola ke arah dorongan spiritual, wayang sebagai salah satu hasil kebudayaan asli Indonesia menunjukkan pola spiritual itu.”


Di era modern ini, dunia pewayangan merupakan sebuah kesenian yang sangat langka. Wayang merupakan warisan budaya klaksik yang sudah mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yaitu sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita, sehingga bisa terbeber jelas dalam hati si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, namun masih ada pakemnya. Secara leksikon (kosakata), wayang bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang.

Dalam dunia seni, apa pun wujudnya, setidaknya mempunyai delapan fungsi sosial yang amat penting. Kedelapan fungsi sosial tersebut adalah: sarana kesenian, sarana hiburan santai, sarana pernyataan jati diri, sarana integrative (pembauran), sarana terapi/ penyembuhan, sarana pendidikan, sarana pemulihan ketertiban, dan sarana simbolik yang mengandung kekuatan magis/ ritual.

Makna di balik pementasan wayang
Selain sebagai tontonan yang menghibur, dalam seni wayang juga menyimpan makna filosofi yang terkadang menarik pada dunia mistik. Hal ini bisa disarikan dari instrumen pementasan wayang. Peralatan yang diusung oleh dalang ini bukanlah sekedar pelengkap belaka. Berikut adalah uthak-athik-gathuknya;

Dalang, peran dalang dalam pewayangan adalah mengatur jalannya sebuah cerita. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa jalan. Dalang adalah perumpamaan dari pemimpin adat, spiritual, pemerintahan, kepala keluarga dan seterusnya. Ini adalah pengibaratan bahwa sesungguhnya semua ciptaan Tuhan di bumi tidak akan pernah bisa berjalan tanpa adanya Khalifah (pemimpin), yang selalu menunjukkan jalannya kehidupan. Bisa juga dalang diibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, dan kelakuan dari tokoh kehidupan (makhluk). Namun secara linguistik, kata dalang merupakan pengalihan dari bahasa Arab “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut.

Beber (layar putih tanpa noda), adalah penggambaran asal bumi yang suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki beber, maka dengan sendirinya bumi akan terkontaminasi dengan perwatakan dari makhluk itu sendiri. Itulah yang akan menjadikan penilaian subyektif tentang bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan putih kembali. Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk pun diluluh lantakkan dari atas bumi ini.
Kelir (batang pohon pisang), ini adalah penggambaran sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa ada wayang yang ditancapkan. Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang tidak dibeber, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah. Nilai filosofinya adalah; raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap.

Wayang, dalam pembuatannya, wayang sangatlah beragam bentuknya. Ada yang bagus, ada yang menyeramkan, dan ada yang lucu. Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang. Pertama, wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka, dan yang kedua adalah wayang yang aslinya dan dipegang oleh dalang. Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua dimensi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk dan ada yang tidak (sirri), namun selalu digenggam oleh sang ‘dalangnya’.

Blencong (lampu penerang di depan layar), pengibaratan dari blencong adalah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa ada blencong, wayang pun takkan bisa jalan, walaupun sudah menancap di atas kelir. Begitu pula tanpa cahaya kehidupan, jiwa dan raga dari makhluk pun takkan bisa hidup. Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milih Sang Hyang Murbaning Dumadi (Allah).

Pethi (kotak kayu), berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati. Ini mengibaratkan sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati. Walau hidup seperti apa pun juga, kita akhirnya pun akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap.

Kemudian dalam pementasannya, lakon dan alur cerita tidak bisa begitu saja dilakukan oleh dalang, harus melalui beberapa pertimbangan. Misalnya, kepercayaan masyarakat di tempat pementasan dan juga tujuan dari pagelaran itu sendiri (ruwatan, larung, atau mungkin juga wangsit dari penanggap atau dalang).

Pesan agama dalam budaya
Goro-goro……
Goro-goro jaman kolo bendhu
Wulangane agomo ora digugu
Sing bener dianggep kliru, sing salah malah ditiru
Bocah sekolah ora gelem sinau
Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru
Pancen perawan saiki ayu-ayu
Ono sing duwur tor kuru, ono sing cendek tor lemu
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.
(Dikutip dari wikipedia.id/ urip.wordpress.com)

 

Arti bebasnya kurang lebih begini; kegegeran jaman edan (modern) , ajaran agama sudah tidak dihiraukan, yang benar dianggap keliru, yang salah malah diikuti, anak sekolah sudah enggan belajar, kalau dinasehati marah, sedangkan ketika tidak lulus sekolah malah memukuli guru, memang perawan sekarang cantik-cantik, ada yang tinggi langsing, ada yang pendek dan gemuk, sayang sekali sukanya mengumbar paha)
Kutipan syair goro-goro di atas menjelaskan tentang goro-goro yang ada di pewayangan. Ada sisi menarik tentang munculnya goro-goro, selain selalu muncul di tengah malam, juga ditandai dengan gunungan. Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi, “geni dadi sucining jagad”, yang mempunyai arti 3441 dan dibalik menjadi angka 1443. Ini sebagai tanda bahwa gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka.

Gunungan (wayang yang disimbolkan sebagai alam dan isinya dengan bentuk lonjong bergambar hutan, pohon sembilan cabang, hewan buas, rumah joglo, dua raksa penjaga gerbang, api, angin, air, dan tanah) yang digambarkan unik oleh Sunan Kalijaga bukan sekedar kreativitas dalam seni ukir belaka. Selain keunikan bentuknya, juga mempunyai nilai mistis maha tinggi, yaitu perwatakan dari isi seluruh alam dan sangkan paraning dumadi (asal mula kehidupan).

Berawal dari kemunculannya selalu di tengah malam – hal ini menyiratkan pada keyakinan orang Islam atau pun Jawa bahwa pertengahan malam yang akhir adalah waktu yang paling tepat untuk mediasi berdoa, muhasabah, dan tafakkur – juga muncul setelah terjadi perselisihan dan peperangan seru antara tokoh dalam pewayangan atau ketika pergantian lakon. Hal itu menunjukkan bahwa semua hal dalam kehidupan tokoh, kembali pada alam dan sang pengendali gunungan.

Setelah gunungan dan goro-goro lewat, muncullah tokoh empat punakawan (bukan empat sekawan). Arti dari Punakawan – terdiri dari Ki Lurah Semar Badranaya atau Sang Guru Sejati, Ki Nala Gareng, Ki Lurah Bagong, dan Ki Petruk Kanthong Bolong– adalah “Kawan yang menyaksikan” atau “Pengiring”. Dalam hukum agama Islam, saksi dalam sebuah masalah yang terbanyak adalah 4 orang saksi, dan minimal adalah dua orang saksi.

Bentuk dari punakawan merupakan perwujudan dari macam-macam bentuk perwatakan manusia. Selain itu, dalam pewayangan Sunan Kalijaga, nama-nama dari punakwan terlahir dari intisari al Quran. Peranan Punakawan sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan. Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia dan merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Dalam uthak-athik-gathuk ala kejawen, penggambaran punakawan sebagai berikut;
Semar; tubuhnya bulat, selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya, simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya, sebagai simbol suka dan duka. Kuncung di kepala adalah perlambangan bahwa manusia haruslah menggunakan akal budinya dalam menimbang-nimbang semua permasalahan, sebagai simbol pria dan wanita. Namun, dalam istilah pewayangan yang dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, Semar adalah gubahan dari lafadz “Simaar”, yang berarti “Paku”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi paku. Siap untuk dipukul guna merekatkan kayu dan dipukul ketika menyembul keluar dari kayu. Ini menyiratkan bahwa seorang muslim haruslah bisa menjadi mediator (penyambung) dari semua golongan tanpa pandang bulu. Ciri yang menonjol dari Semar adalah kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.

Gareng; ciri yang menonjol dari punakawan ini adalah berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa (simbol) dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Kemudian bermata kero yang merupakan kewaspadaan. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain dan teliti. Ketiga cacat tubuh tersebut menyimbolkan rasa. Gareng juga diambilkan dari bahasa Arab “Qariin”, yang berarti teman. Pesan yang tersarikan dari ciri fisik Gareng menunjukkan, bahwa kita haruslah mencari teman yang selalu berhat-hati dalam bertindak, waspada, dan tidak suka mengambil hak orang lain.

Petruk; ia adalah nama lain dari Dawala. Dawa berarti panjang, La dari kata Ala yang berarti jelek. Semua bentuk tubuhnya panjang, berkulit hitam, pokoknya jelek semua. Namun, perlambangan dari petruk adalah memandang dan berpikir panjang dalam segala hal, tidak grusa-grusu (ceroboh) dan mempunyai kesabaran yang luas. Dalam khazanah Arab, Petruk berasal dari kata “Fatruk Kullu Man Siwallah”, yang berarti “tinggalkan semua makhluk selain Allah.” Petruk merupakan simbol dari karsa, kehendak, dan keinginan yang digambarkan dalam kedua tangannya yang panjang. Jika digerakkan, tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih (agama/ ideologi).

Bagong; tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal. Gaya bicaranya terkesan ceplas-ceplos dan semaunya sendiri. Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama, namun tangguh. Dalam literatur bahasa Arab, Bagong berasal dari kata “Baghaa”, yang berarti “berontak”. Bagong merupakan bentuk dari karya. Hal itu disimbolkan dari kedua telapak tangan yang kelima jarinya terbeber lebar, yang berarti selalu siap sedia untuk bekerja keras.

Dari keempat simbol dari punakawan ini (cipta, rasa, karsa dan karya), tidak bisa dipisah antara satu dengan yang lainnya. Karena, keempat simbol itu merupakan intisari dari kepribadian dan jati diri manusia, yaitu berfikir jernih, berhati tulus, bertekad bulat, dan bekerja keras. Sehingga bisa menjadikannya sebagai manusia yang ideal, baik di hadapan makhluk yang lainnya, dan di hadapan Tuhan. Sungguh menarik bukan?

(http://misykat.lirboyo.net/wayang-tontonan-yang-jadi-tuntunan/)

(http://ribathnurulhidayah.org/2011/wayang-metode-penyebaran-dakwah-wali-songo/)