Akhir maret 2018, tiga hari lagi april


Perjalanan yang perlu sangat saya syukuri, aku merasakan penuh keajaiban di tahap-tahap kehidupan ini. Terutama di dua tahun terakhir.

Iklan

Ceritaku di Kontes Robot Indonesia 2016 (Jilid satu)


Jum’at setengah sembilan pagi diantarkan oleh Umar, teman saya. Setelah sampai di Sedayu Turen dengan menaiki Vega-R miliknya, dilanjut menaiki Bus Jalur Malang-Lumajang. Dengan ongkos 30 ribu sampailah di Lumajang setelah menempuh perjalanan selama 4 jam setengah.

Menanti sejenak datangnya bus selanjutnya, menghabiskan sebatang rokok pendeknya Gudang Garam yaitu GG International. Dilanjutkan menumpang bus patas jurusan Jember kota, ditempuh dengan cepat dengan fasilitas mendengarkan dua musisi jalanan yang saling bergantian memamerkan suaranya dari arah Lumajang menuju perbatasan dengan Kab. Jember. Ongkos bus tersebut pas 15 ribu, diturunkan di Tawang alun Jember.

Dari situ dilanjutkan memilih lin jalur “D” alias jalur kampus, lin adalah sebutan angkot di kota itu. Turun di bundaran antara jalan mastrip dan jalan kalimantan yang mengarah ke gerbang utama kampus Unej Jember. Disitu aku menunggu jemputan teman yang asli berdomisili Jember. Datanglah di Gor Perjuangan ’45 Polije Jember. Teman-teman Tim Robot kampus STMIK Asia sedang menjalankan beberapa test lapangan.

04

Gambar diatas adalah Tim KRPAI Beroda dari kampus mungil di pojok jalan suhat Malang edisi 2016.

Malamnya, masih di tanggal 6 mei 2016 masehi itu aku bermalam tidak depan Gedung Kontes seperti beberapa waktu yang lalu. Lumayan bisa tidur di seberangnya Carrefour Jember, sebut saja “Bandung Permai” yang merupakan bentuk nama dari sebuah hotel.

Paginya, sudah jelas hari sabtu. Hujan datang sejak subuh, dan setelah mengambil sarapan hemat di penginapan tadi bergegaslah menuju tempat kontes robot untuk mengantri tiket kontes. tak lama mengantrinya, kisaran 1 batang rokok dengan merk yang sama dengan kemarin. Dari jam 6.30 s.d 7.30 aku tunggu mulainya kontes dengan memejamkan mata di kursi taman kampus polije.

DSC_0371

Di barat masjid inilah aku menyantaikan diri. terdengarlah suara lomba telah dibuka dengan pertandingan antara tim dari kampusku dan kampus timurnya Jember, yaitu Tim dari Banyuwangi.

 

#Bersambung….

 

Driver Notebook Inforce Cherry 808 XP


Driver Notebook inforce cherry 808 untuk windows XP (support XP sp 3)

1. LAN -> “Realtek gbe fe ethernet pci-e nic drivers windows xp”

kunjungi : LAN Realtek

2. WiFI -> “Realtek wireless lan mini pci express adapter drivers xp”

Kunjungi : WiFi

 3. Sound Card -> “Realtek high definition audio driver xp”

Kunjungi : Sound Card

 4. VGA Intel -> “intel graphic media accelerator xp”

Kunjungi : VGA

5. Chipset Intel -> “intel intel chipset device software xp”

Kunjungi : Chipset

 

Gambar

Mandi Besar


Ojo lali silite dipliyekne lek pas “Mandi Besar”, iku ngunuh yo kudu didusi.
Carane mliyekne yo karo njengking, ngunuh yo iso.

bagi teman-teman yang ingin menerjemahkan secara halus berbahasa indonesia, monggo..!!!

Nulis Lagi


Tulisan ini berisi tentang :

 

“Semoga Allah membimbing kita kepada yang dicintainya di dunia ini dan di akhirat! “

ORANG DIKEJAR-KEJAR AGAR MAU UTANG: GODAAN UANG MUDAH


Oleh Rohman Budijanto, Wartawan Radar Malang

Jum‘at, 29 April 2011

 

Seorang Kiai menasihati seorang pemuda agar segera menikah. Gelagatnya pemuda ini memang sudah tak tahan membujang. “Sudah, nikah saja,” kata sang kiai itu.

“Tapi, Pak Kiai, nanti kalau saya tidak bisa menafkahi bagaimana?” kata pemuda yang memang agak malas bekerja ini.

“Datang saja ke rumah saya,” jawab sang kiai.

Maka kawinlah pemuda ini. Hari-hari pertama enak, tapi lama kelamaan memang dia kesulitan memberi nafkah materi kepada istrinya. Lalu si pemuda bertamu ke rumah sang kiai. Tapi, sang kiai sedang ke luar kota, tak jelas kapan pulangnya. Si pemuda dengan setia menunggu di rumah sang kiai. Hari kedua dia tetap menunggu.

Melihat ada pemuda yang duduk-duduk saja di rumah kiai, pembantu kiai itu bertanya, “Sudah saya bilang Pak Kiai tidakjelas kapan pulangnya, kok tetap di sini. Memangnya ada perlu apa?” tanya pembantu kiai itu.

Lalu diceritakanlah anjuran menikah Pak Kiai lalu dia kesulitan menafkahi istrinya. Pembantu kiai itu pun menukas, “Oalah, daripada sampeyan nunggu di sini dua hari, kenapa tidak bekerja saja. Dua hari pasti dapat uang lumayan.”

Para pembaca, salah satu godaan kontemporer yang berat saat ini adalah iming-iming mendpat “uang mudah”. Dengan segala bujuk rayu, orang digiring menuju angan-angan betapa mudahnya uang masuk kantong kita. Yang melanggar lewat korupsi, melacur, menipu, merampok, atau mencuri. Selain yang jelas-jelas melanggar itu,ada jalan lain lewat iming-iming hadiah, berangan-angan kerja mudah, serta tawaran utang.

Kalau dilihat di sekitar, alangkah banyak iming-iming aneka hadiah  jutaan, bahkan miliaran, atau barang mewah (tentu setelah membeli produk tertentu). Seolah-olah menjadi jutawan atau miliarder itu begitu gampangnya. Lihat ekspresi iklan yang menawarkan hadiah, banyak yang diisi gambar orang lonjak-lonjak, tertawa lebar, mandi uang, atau membanggakan mobil mewah. Padahal, itu tak lebih kemasan dagang. Kemungkinan mendapat hadiah amatlah kecil. Kemungkinan kecil inilah yang dibesar-besarkan.

Tak hanya para pembeli yang diimingi hadiah. Bahkan, kini orang diuber-uber, agar mau utang! Tawaran kredit cepat begitu banyak, mulai dari bank internasional sampai BPR. Alangkah agresif tawaran marketing kartu kredit di mal-mal dan perkantoran. Bahkan, ada yang terus-menerus telepon ke rumah atau HP.

Apalagi ini semua kalau bukan godaan agar utang? Saat kita tanda tangan utang, marketingnya tersenyum. Saat menunggak, yang datang penagih utang yang sangar. Kasus debt collector yang menelan nyawa yang saat ini sedang dibicarakan, apalagi kalau bukan terkait dengan kasus tergoda utang yang berakhir dengan kesulitan membayar?

Kerja keras dan telaten dengan tangan sendiri tak lagi jadi pelajaran pokok dalam hidup. Pelajaran “hemat pangkal kaya” kian terasa klise dan jadul. Mimpi “uang mudah” bisa melupakan, bahwa dia bisa bekerja sendiri dengan sabar, seperti kisah nyata di awal tulisan ini. Padahal, tak kurang-kurangnya Rosululloh SAW mencontohi dan mengajarkan betapa kerja keras dengan keringat sendiri itu dekat kepada taqwa. Kita ingat, ketika Rosululloh SAW menegur keras pemuda yang hanya duduk-duduk di masjid berdo’a, sementara keluarganya keleleran.

Telah banyak manusia yang terjerumus pada nestapa berkepanjangan hanya tergoda “uang mudah” sesaat. Sengsaranya tidak sebanding dengan nikmatnya. Baik itu resiko malu, kehormatan hilang, penjara, ataupun sanksi di akhirat kelak (kita beriman soal ini, bukan?).

Dampak keinginan mendapat uang mudah itu jelas terlihat di sekitar kita. Karena godaan “uang mudah” ini, secara sadar atau tidak sadar kita menggiring anak-anak kita tercinta menuju jalan gemerlap yang bisa menyesatkan. Alangkah antusias orang mendatangi dan berkerumunan di sekitar lomba fashion, audisi, adu nyanyi, dan aneka lomba hiburan lain. Kita sering lihat pengorbanan apapun ditempuh untuk menang.

Kita juga sering lihat ironi, ibu yang berjilbab rapat mengantarkan putrinya lenggak-lenggok berbusana terbuka di panggung audisi. Seolah sang ibu menjaga aurot demi surga, tapi rela anaknya melangkah ke jalan lain. Ini semua demi mengejar mimpi jadi artis panggung yang kelihatannya gampang cari uang (dan terkenal pula). Ya, para penghibur memang sangat dielu-elukan. Dan, alangkah jarang yang mengelu-elukan anak-anak kita yang baru menang lomba matematika, fisika, atau qiro’ah.

Tak hanya penampilan fisik dan aurot yang dijual demi “uang mudah”. Agama sering dijual amat murah demi uang. Untuk berita aktual, dari pengungkapan apa yang disebut sebagai “Kasus NII” agaknya, ujung-ujungnya juga uang. Orang yang “dicuci otak” disuruh menyerahkan uang. Bahkan, seperti diberitakan, membohongi orang tua pun dibolehkan demi mendapat dana.

Ajaran apa ini? Tanpa fatwa pun kita tahu ini haram! Agaknya “kasus NII” ini juga tak lepas dari modus mendapat “uang mudah”. Jangan-jangan “kasus NII” memang semacam organisasi “gendam multilevel” demi cari uang semata.

Alangkah banyaknya nestapa karena “uang mudah” ini. Kita perlu menengok dan mencontoh kata-kata arif yang berusia 1.400 tahun (lebih): Manusia yang terbaik adalah yang paling berguna kepada sesamanya. Kita ingat, itu kata-kata Rosululloh SAW, orang termulia yang menjahit sendiri sandalnya yang jebol.

 

Sumber : di sebuah folder milik guru

Wayang, Agama dan Budaya


Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau jawa dan pulau Bali.

Unesco, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanit).

Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Dalam daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.

Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Begitu juga ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber cerita berasal dari Alkitab.

Dalam islam, wayang merupakan tontonan dan juga tuntunan.

Seperti dalam artikel yang telah diterbitkan Majalah Misykat, 24 0ktober 2011 oleh : Rangga Dusy

Kehidupan manusia sepertinya tak dapat dipisahkan dari ibarat atau simbol. Salah satu simbol penting yang bersentuhan langsung dengan gerbang kehidupan manusia adalah wayang. Segala macam yang berhubungan dengan wayang, mulai dari adegan dan lakon, wayang kulit, peralatan pentas (blencong, beber, dll), pembabakan waktu, dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir (batang pisang untuk menancapkan wayang), semuanya memiliki makna penting yang sayang untuk tidak diketahui dan dilestarikan.

Wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang suku Jawa tentang kehidupan manusia. Mereka meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi atau bayangan (jawa; Wewayangan/ wayang). Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen (animisme). Namun setelah agama-agama masuk ke Jawa, wayang berubah wujud menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan muncullah nama-nama lakon yang disesuaikan oleh agama-agama yang mengusung dan bermetamorfosis dengan perkembangan zamannya.

Menurut Prof. Dr. Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, “Wayang merupakan kebudayaan asli dari orang Jawa.” Wayang juga merupakan satu-satunya kebudayaan yang memasyarakat, karena dalam wayang tidak mengenal istilah kultur ataupun kasta. Seperti dikatakan oleh Sigmund Frued, “Kebudayaan Indonesia menunjukkan dorongan yang lebih manusiawi. Historis kebudayaan Indonesia menampakkan pola ke arah dorongan spiritual, wayang sebagai salah satu hasil kebudayaan asli Indonesia menunjukkan pola spiritual itu.”


Di era modern ini, dunia pewayangan merupakan sebuah kesenian yang sangat langka. Wayang merupakan warisan budaya klaksik yang sudah mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yaitu sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita, sehingga bisa terbeber jelas dalam hati si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, namun masih ada pakemnya. Secara leksikon (kosakata), wayang bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang.

Dalam dunia seni, apa pun wujudnya, setidaknya mempunyai delapan fungsi sosial yang amat penting. Kedelapan fungsi sosial tersebut adalah: sarana kesenian, sarana hiburan santai, sarana pernyataan jati diri, sarana integrative (pembauran), sarana terapi/ penyembuhan, sarana pendidikan, sarana pemulihan ketertiban, dan sarana simbolik yang mengandung kekuatan magis/ ritual.

Makna di balik pementasan wayang
Selain sebagai tontonan yang menghibur, dalam seni wayang juga menyimpan makna filosofi yang terkadang menarik pada dunia mistik. Hal ini bisa disarikan dari instrumen pementasan wayang. Peralatan yang diusung oleh dalang ini bukanlah sekedar pelengkap belaka. Berikut adalah uthak-athik-gathuknya;

Dalang, peran dalang dalam pewayangan adalah mengatur jalannya sebuah cerita. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa jalan. Dalang adalah perumpamaan dari pemimpin adat, spiritual, pemerintahan, kepala keluarga dan seterusnya. Ini adalah pengibaratan bahwa sesungguhnya semua ciptaan Tuhan di bumi tidak akan pernah bisa berjalan tanpa adanya Khalifah (pemimpin), yang selalu menunjukkan jalannya kehidupan. Bisa juga dalang diibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, dan kelakuan dari tokoh kehidupan (makhluk). Namun secara linguistik, kata dalang merupakan pengalihan dari bahasa Arab “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut.

Beber (layar putih tanpa noda), adalah penggambaran asal bumi yang suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki beber, maka dengan sendirinya bumi akan terkontaminasi dengan perwatakan dari makhluk itu sendiri. Itulah yang akan menjadikan penilaian subyektif tentang bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan putih kembali. Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk pun diluluh lantakkan dari atas bumi ini.
Kelir (batang pohon pisang), ini adalah penggambaran sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa ada wayang yang ditancapkan. Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang tidak dibeber, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah. Nilai filosofinya adalah; raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap.

Wayang, dalam pembuatannya, wayang sangatlah beragam bentuknya. Ada yang bagus, ada yang menyeramkan, dan ada yang lucu. Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang. Pertama, wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka, dan yang kedua adalah wayang yang aslinya dan dipegang oleh dalang. Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua dimensi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk dan ada yang tidak (sirri), namun selalu digenggam oleh sang ‘dalangnya’.

Blencong (lampu penerang di depan layar), pengibaratan dari blencong adalah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa ada blencong, wayang pun takkan bisa jalan, walaupun sudah menancap di atas kelir. Begitu pula tanpa cahaya kehidupan, jiwa dan raga dari makhluk pun takkan bisa hidup. Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milih Sang Hyang Murbaning Dumadi (Allah).

Pethi (kotak kayu), berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati. Ini mengibaratkan sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati. Walau hidup seperti apa pun juga, kita akhirnya pun akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap.

Kemudian dalam pementasannya, lakon dan alur cerita tidak bisa begitu saja dilakukan oleh dalang, harus melalui beberapa pertimbangan. Misalnya, kepercayaan masyarakat di tempat pementasan dan juga tujuan dari pagelaran itu sendiri (ruwatan, larung, atau mungkin juga wangsit dari penanggap atau dalang).

Pesan agama dalam budaya
Goro-goro……
Goro-goro jaman kolo bendhu
Wulangane agomo ora digugu
Sing bener dianggep kliru, sing salah malah ditiru
Bocah sekolah ora gelem sinau
Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru
Pancen perawan saiki ayu-ayu
Ono sing duwur tor kuru, ono sing cendek tor lemu
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.
(Dikutip dari wikipedia.id/ urip.wordpress.com)

 

Arti bebasnya kurang lebih begini; kegegeran jaman edan (modern) , ajaran agama sudah tidak dihiraukan, yang benar dianggap keliru, yang salah malah diikuti, anak sekolah sudah enggan belajar, kalau dinasehati marah, sedangkan ketika tidak lulus sekolah malah memukuli guru, memang perawan sekarang cantik-cantik, ada yang tinggi langsing, ada yang pendek dan gemuk, sayang sekali sukanya mengumbar paha)
Kutipan syair goro-goro di atas menjelaskan tentang goro-goro yang ada di pewayangan. Ada sisi menarik tentang munculnya goro-goro, selain selalu muncul di tengah malam, juga ditandai dengan gunungan. Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi, “geni dadi sucining jagad”, yang mempunyai arti 3441 dan dibalik menjadi angka 1443. Ini sebagai tanda bahwa gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka.

Gunungan (wayang yang disimbolkan sebagai alam dan isinya dengan bentuk lonjong bergambar hutan, pohon sembilan cabang, hewan buas, rumah joglo, dua raksa penjaga gerbang, api, angin, air, dan tanah) yang digambarkan unik oleh Sunan Kalijaga bukan sekedar kreativitas dalam seni ukir belaka. Selain keunikan bentuknya, juga mempunyai nilai mistis maha tinggi, yaitu perwatakan dari isi seluruh alam dan sangkan paraning dumadi (asal mula kehidupan).

Berawal dari kemunculannya selalu di tengah malam – hal ini menyiratkan pada keyakinan orang Islam atau pun Jawa bahwa pertengahan malam yang akhir adalah waktu yang paling tepat untuk mediasi berdoa, muhasabah, dan tafakkur – juga muncul setelah terjadi perselisihan dan peperangan seru antara tokoh dalam pewayangan atau ketika pergantian lakon. Hal itu menunjukkan bahwa semua hal dalam kehidupan tokoh, kembali pada alam dan sang pengendali gunungan.

Setelah gunungan dan goro-goro lewat, muncullah tokoh empat punakawan (bukan empat sekawan). Arti dari Punakawan – terdiri dari Ki Lurah Semar Badranaya atau Sang Guru Sejati, Ki Nala Gareng, Ki Lurah Bagong, dan Ki Petruk Kanthong Bolong– adalah “Kawan yang menyaksikan” atau “Pengiring”. Dalam hukum agama Islam, saksi dalam sebuah masalah yang terbanyak adalah 4 orang saksi, dan minimal adalah dua orang saksi.

Bentuk dari punakawan merupakan perwujudan dari macam-macam bentuk perwatakan manusia. Selain itu, dalam pewayangan Sunan Kalijaga, nama-nama dari punakwan terlahir dari intisari al Quran. Peranan Punakawan sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan. Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia dan merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Dalam uthak-athik-gathuk ala kejawen, penggambaran punakawan sebagai berikut;
Semar; tubuhnya bulat, selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya, simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya, sebagai simbol suka dan duka. Kuncung di kepala adalah perlambangan bahwa manusia haruslah menggunakan akal budinya dalam menimbang-nimbang semua permasalahan, sebagai simbol pria dan wanita. Namun, dalam istilah pewayangan yang dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, Semar adalah gubahan dari lafadz “Simaar”, yang berarti “Paku”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi paku. Siap untuk dipukul guna merekatkan kayu dan dipukul ketika menyembul keluar dari kayu. Ini menyiratkan bahwa seorang muslim haruslah bisa menjadi mediator (penyambung) dari semua golongan tanpa pandang bulu. Ciri yang menonjol dari Semar adalah kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.

Gareng; ciri yang menonjol dari punakawan ini adalah berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa (simbol) dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Kemudian bermata kero yang merupakan kewaspadaan. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain dan teliti. Ketiga cacat tubuh tersebut menyimbolkan rasa. Gareng juga diambilkan dari bahasa Arab “Qariin”, yang berarti teman. Pesan yang tersarikan dari ciri fisik Gareng menunjukkan, bahwa kita haruslah mencari teman yang selalu berhat-hati dalam bertindak, waspada, dan tidak suka mengambil hak orang lain.

Petruk; ia adalah nama lain dari Dawala. Dawa berarti panjang, La dari kata Ala yang berarti jelek. Semua bentuk tubuhnya panjang, berkulit hitam, pokoknya jelek semua. Namun, perlambangan dari petruk adalah memandang dan berpikir panjang dalam segala hal, tidak grusa-grusu (ceroboh) dan mempunyai kesabaran yang luas. Dalam khazanah Arab, Petruk berasal dari kata “Fatruk Kullu Man Siwallah”, yang berarti “tinggalkan semua makhluk selain Allah.” Petruk merupakan simbol dari karsa, kehendak, dan keinginan yang digambarkan dalam kedua tangannya yang panjang. Jika digerakkan, tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih (agama/ ideologi).

Bagong; tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal. Gaya bicaranya terkesan ceplas-ceplos dan semaunya sendiri. Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama, namun tangguh. Dalam literatur bahasa Arab, Bagong berasal dari kata “Baghaa”, yang berarti “berontak”. Bagong merupakan bentuk dari karya. Hal itu disimbolkan dari kedua telapak tangan yang kelima jarinya terbeber lebar, yang berarti selalu siap sedia untuk bekerja keras.

Dari keempat simbol dari punakawan ini (cipta, rasa, karsa dan karya), tidak bisa dipisah antara satu dengan yang lainnya. Karena, keempat simbol itu merupakan intisari dari kepribadian dan jati diri manusia, yaitu berfikir jernih, berhati tulus, bertekad bulat, dan bekerja keras. Sehingga bisa menjadikannya sebagai manusia yang ideal, baik di hadapan makhluk yang lainnya, dan di hadapan Tuhan. Sungguh menarik bukan?

(http://misykat.lirboyo.net/wayang-tontonan-yang-jadi-tuntunan/)

(http://ribathnurulhidayah.org/2011/wayang-metode-penyebaran-dakwah-wali-songo/)

2011 Rock Metal Album Released (Indowebster)


Stratovarius - Elysium (2011)
Cake - Showroom of Compassion (2011)
Pearl Jam – Live On Ten Legs (2011)
Battlelore - Doombound (2011)
Theatres Des Vampires - Moonlight Waltz (2011)
White Lies – Ritual (2011)
Magnum – The Visitation (2011)
Monumental Torment
Earth - Angels of Darkness, Demons Of Light 1 2011
Soul Of Steel - Destiny (2011)
Sideburn - Jail - (2011)
Red-Until We Have Face(2011)
Emerald Sun - Regeneration
Arafel - For Battles Once Fought
Monotonix - Not Yet (2011)
L.U.S.T. - First Tattoo (2011)
Cold War Kids - Mine Is Yours (2011)
I Am Empire-Kings (2011)
Deadlock - Bizarro World - 2011
Eustacian - The Sphagnum Bog [2011]
Corpse For Breakfast - Arson EP - 2011
Before The Fall - Antibody - 2011 WEB
Abysmal Dawn - Leveling The Plane of Existence (2011)
Bonfire - Branded (2011)
Lazarus A.D - Black Rivers Flow (2011)
Helix - Smash Hits...Unplugged! (2011)
Onslaught - Sounds of Violence (2011)
Linkin Park - A Thousand Suns: Puerta De Alcala EP (2011)
Onslaught - Sounds of Violence (2011)
Sirenia - The Enigma Of Life
Woebegone Obscured - Deathstination
Hibria - Blind Ride - 2011
Ipsilon - Zero (EP) 2011
Overdrive - Angelmaker - 2011
Before The Dawn - Deathstar Rising
Iskald - The Sun I Carried Alone
Katanga - Moonchild
Serenity - Death & Legacy
Benedictum - Dominion
RALF SCHEEPERS – Scheepers 2011
Children of Bodom - Relentless Reckless Forever
R.E.M. - Collapse Into Now
COLDSPELL - Out From The Cold (2011)
Whitesnake - Forevermore (2011)
Rise Against – Endgame [2011]
Fen & De Arma - Towards The Shores Of The End [split]
Radiohead – King of Limbs (2011)
Within Temptation - The Unforgiving (2011)
Panic! at the Disco – Vices and Virtues (2011)
Green Day-Awesome As F**k (2011)
Symfonia - In Paradisium
4th Dimension - The White Path To Rebirth
To Cast A Shadow - In Memory Of

VRu13 added:
Legion Of The Damned – Descent Into Chaos (2011)
Belphegor – Blood Magick Necromance (2011)
The Material – What We Are (2011)
Sirenia - The Enigma Of Life (2011)
Aurora Borealis - Timeline: The Beginning And End Of Everything (2011)
Destruction - Day Of Reckoning (2011) 
Korpiklaani – Ukon wacka (2011)
Neuraxis – Asylon (2011)
Burzum – Fallen (2011)
The Lifeline - Reflections Of Hope (2011)
Aurora Borealis - Timeline: The Beginning And End Of Everything (2011) 
Destruction - Day Of Reckoning (2011) 
Korpiklaani – Ukon wacka (2011)
Neuraxis – Asylon (2011)
Burzum – Fallen (2011)
The Lifeline - Reflections Of Hope (2011)
Feastem - World Delirium (2011)
Metal Hammer - Razor (Issue 215) MAG (2011)
Virus – The Agent the Shapes the Desert 
The Fisticuffs – You'll Not Take Us Alive (2011)
Sabbat – Sabbatrinity (2011)
Moonsorrow - Varjoina Kuljemme Kuolleiden Maassa (2011)
Ava Inferi - Onyx (2011)
Dropkick Murphys - Going Out In Style (2011)
Ragdolls – Dead Girls Don't Say No (2011)
Beyond Creation - The Aura (2011)
Straight Line Stitch – The Fight Of Our Lives (2011)
Murkrat - Drudging The Mire (2011)
Blackguard - Firefight (2011)
Chaos Divine - The Human Connection (2011)

FirstStrike added:
Adaliah - Rituals [2011]
Keith Merrow- Awaken The Stone King [2011]
Escape The Fate - Issues Remix EP
No Bragging Rights - Illuminator (2011)
The Get Up Kids - There Are Rules [2011]
Decoder - Decoder [2011]
Architects - The Here And Now [2011]
Dead By April - Stronger [2011]
DevilDriver - Beast [2011]
DevilDriver - Beast [2011]

Amculin added:
POWER QUEST - Blood Alliance [2011]

itoel added:
Mercenary - Metamorphosis
Omnium Gatherum - New World Shadows (http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=136718&page=1)