Wong Urip mung Gawe Apik


Ditulis oleh: Saratri Wilonoyudho

Sari Diskusi Maiyah Gambang Syafaat 25 September 2011

Pertemuan Maiyah Gambang Syafaat kali ini dimeriahkan oleh Kiai Kanjeng yang baru saja bermaiyah dengan PT. Herculon siang harinya. Dalam diskusi ini, Cak Nun melontarkan satu istilah menarik, yakni tujuan hidup itu bukan mencari uang atau materi, namun berbuat kebaikan (gawe apik — Jawa). Untuk itu Cak Nun memberi “tugas” kepada saya untuk menafsirkan istilah itu. Tentu ini tugas berat bagi saya karena mulut dan hati saya belum fasih membaca ayat-ayatNya. Namun untuk menguatkan diri, maka tugas ini justru saya pandang sebagai arena untuk olah pikir dan olah batin agar lebih fasih lagi, karena kunci untuk mendapatkan derajad dari Allah SWT adalah berilmu pengetahuan, dan syarat untuk ini adalah rajin iqro’ dan berpikir (catatan : Allah berkali-kali menantang manusia untuk berpikir….jika kamu sekalian mau berpikir, dst).

Jika perintah “urip mung gawe kebecikan” ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka “efek samping”nya adalah materi, uang atau nafkah yang justru lebih melimpah daripada ketika tujuan hidup kita adalah mencari uang semata. Tentu ini berbeda dengan “Kiai Yusuf Mansyur” yang demikian heroik menafsirkan Qur’an dengan “teori” sedekah versinya. Benar dalam Al Qur’an Allah SWT menjanjikan akan melipatgandakan amal kebaikan menjadi 700 kali dan seterusnya, namun tentu ini harus dimaknai dalam hubungan “rasa cintaNya” kepada kita, dan bukan hubungan matematis-kapitalistis. Kalau terjebak dengan cara pandang Kiai Yusuf Mansyur maka orang yang bersedekah bukan dalam kerangka taqwa dan tawakal, melainkan dalam hubungan dagang. “Ini lho Tuhan aku sudah bersedekah, mana imbalan 700 kali itu ?”, barangkali ini yang dicari manusia.

Padahal Allah SWT sudah bernjanji akan memberi rezeki dari arah yang tidak diduga-duga dan akan mencukupkan segala kebutuhan kita, dan Allah hanya meminta dua hal dari kita: taqwa dan tawakal. Taqwa tentu terkait dengan kemesraan cinta antara hamba dan Tuhannya dan tawakal adalah term yang tidak terpisah dari kata kerja. Orang yang tidak pernah bekerja dalam kebaikan tidak boleh mengklaim dirinya tawakal hanya dengan jalan menyerahkan diri saja kepada Allah SWT. Sederhana saja, Allah telah berbagi kepada kita secara demokratis. Kita sudah diberi berbagai fasilitas di alam semesta ini, dan tentu saja ada pembagian tugas atau sharing. Ada qudrah dan ada iradah.

Kalau kita menaruh motor tanpa terkunci dan kemudian kita berdoa kepada Allah agar motor itu tidak hilang, maka ketika motor itu benar-benar hilang jangan kemudian kita mengkambinghitamkan Tuhan atau setidaknya kita bicara takdir. Demikian pula dalam mengelola negara dan apapun, karena pada dasarnya Allah telah berbagai tugas dengan manusia.

Ungkapan “urip mung gawe kebecikan”, dalam bingkai kapitalisme akan ditertawakan. Dalam prinsip kapitalisme, modal harus sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya. Karena yang dicari hanya materi atau keuntungan semata, maka efek sampingnya justru “tidak untung”. Dalam kapitalisme yang muncul bukan “kebecikan” yang berbuah “materi”, namun justru kerusakan dan kehancuran. Padahal Allah dengan tegas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Kapitalisme saat ini bagai “agama baru” yang menyembah api. Kaum kapitalis dengan berbagai cara terus menempuh sampai si konsumen merasa kehausan dan bernafsu untuk melepaskan dahaga itu. Para birokrat negara yang begitu fasih berkolaborasi dengan para pemilik modal, sampai dalam membangun negara tidak memperhatikan kebudayaan dan hanya akan menjadikan negara yang “beragamakan api”.

Dalam lingkup yang lebih kecil, yakni di kota, dalam bukunya The Language of Post-Modern Architecture (London, 1977), Jencks menuding ritual perancangan kota yang cenderung seragam, mengikuti logika mesin dan logika berproduksi industrial. Dampak yang dibawanya mirip sebuah “homologisasi” berupa gedung-gedung hypermal, supermarket pencakar langit, perkantoran-bisnis, dst, yang sialnya semuanya serba transparan, boros energi, monoton, dan yang mengerikan, menyihir masyarakatnya untuk menjadi “kerbau yang dicocok hidungnya”.

Akibatnya pembangunan mal dan pusat bisnis lainnya bersifat abstrak, berikut kenyataan bahwa ia berbasis kepada asumsi yang tidak pernah teruji dan tidak pernah sesuai dengan kebutuhan riil manusia. Ia bagaikan “pakaian jadi” bagi manusia modern yang dimitoskan dan karena itu hanya ada di kepala para arsitek dan para pemodal itu. “Agama api” mereka disimbolkan dengan slogan how to big is too big. Buah tangannya adalah kota-kota metropolitan dengan megamal dan gedung pencakar langit nan menjulang.

Kembali kepada ungkapan Urip mung gawe kebecikan pasti ini berbeda dengan prinsip kapitalisme tersebut. Urip mung gawe kabecikan tentu didasarkan atas cinta dan kasih sayang (silaturahim). Rasululloh dengan tegas mengatakan bahwa buah silaturahim adalah umur panjang dan rezeki. Ini bukan sesuatu yang tanpa dasar ilmiah karena rasa cinta menumbuhkan kesarehan dan pasti kesarehan akan mencegah stres. Kehidupan yang makin sumpeg ini berawal dari rasa stres yang kemudian menumbuhkan berbagai penyakit. Rasululloh kemudian juga menambahkan bahwa sumber dari segala macam penyakit hidup adalah berlebihan. Karenanya beliau berwasiat: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu manajemen ala rasululloh ini tidak hanya berlaku untuk makan dalam arti harfiah, namun dalam segala bidang kehidupan.

Urip mung gawe kebecikan yang beralaskan cinta, atau silaturahim, pasti akan menghindarkan manusia dari kehinaan dan kehancuran. Rachim adalah cinta mendalam, dan rahman adalah cinta meluas.

Keduanya adalah buah dari kesungguhan kita dalam menjalankan perintah Allah SWT yang mengajari kita dengan doa yang jelas dan tegas: ihdinas siratal mustaqim, Ya allah tunjukkan kami ke jalan yang lurus (menegakkan).

Dengan kata lain, untuk mencari kebecikan, maka cukup lakukan apa saja yang ada dalam potensi diri kita secara sungguh dan lurus (menegakkan), dan Allah akan memberikan “efek samping” yang tidak terduga-duga sebagaimana dijanjikan dalam “Ayat seribu dinar” di atas. Allah tidak memerintahkan kita mencari “out put”, namun menjanjikan “out come”, apabila kita kita berjalan lurus dan menegakkan.

Urip mung gawe kebecikan akan dipuncaki oleh “sufisme Jawa” lainnya seperti “urip mung sakdremo nglakoni” atau ” urip mung mampir ngombe”. Dalam pandangan Islam tradisional sebagai mana dikatakan Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam, Tuhan merupakan realitas absolut yang tak terhingga. Kalau Tuhan diibaratkan samudera tak terhingga, maka manusia hanyalah percikan dari samudera Ilahi tersebut, sehingga muncul konsep jabbariyah atau paham fatalisme. Namun bagi saya, urip mung mampir ngombe bukan fatalisme, namun justru puncak kesufian Jawa. Dalam pandangan ini orang Jawa tidak akan “kawin” dengan dunia, karena hidup hanya sebentar (mung mampir ngombe). Jangankan “kawin”, “pacaran” dengan dunia saja tidak sempat.

Namun bagi mereka yang meyakini bahwa Tuhan itu adil, maka pepatah Jawa “sawang sinawang” harus dicermati, Di tengah-tengah kekayaan yang melimpah, kehidupan seseorang belum tentu juga tenteram. Misalnya banyaknya kasus orang kaya yang masih korupsi atau terjebak narkoba, demikian pula para artis yang glamour yang sering berakhir tragis hidupnya, dst, menunjukkan hal itu.

Kemudahan mencari rezeki ternyata diimbangi dengan cara hidup yang glamour sehingga juga mudah habis. Banyaknya teman main, teman bekerja yang cantik atau ganteng, membikin mereka mudah selingkuh. Kesibukan mencari popularitas dan uang menyebabkan hidup mereka “kemrungsung” dan jauh dari kehidupan religiusitas (meski mereka juga mengaku beragama).

Di tengah-tengah kesulitan hidup, di tengah-tengah jaman kalabendhu, serta kegersangan spiritualitas,dst, banyak orang sibuk mencari guru atau perkumpulan-perkumpulan spiritual. Semua kemoderenan dalam arti sistem sosial memberi petunjuk ke arah mana dunia bergerak. Orang banyak mendesakkan diri, menggantikan kenyamanan alamiah dengan yang buatan manusia. Disinilah ketenteraman hidup dipertaruhkan.

Yang mengalami ternyata tidak hanya kaum miskin, namun juga para bos kaya raya dan para artis. Kisah bos Hyundai Korea yang terjun dari lantai atas sebuah hotel hingga tewas menunjukkan hal itu. Demikian pula ramainya pengajian di hotel berbintang lima dengan mengundang dai-dai terkenal dst, menunjukkan kegelisahan sebagian kaum kaya untuk “lari” atau “escape” ke dunia spiritual.

Tujuh Jalan Sufi

Karenanya, pencucian hati merupakan dasar bagi terbitnya ketenteraman hidup. Al Ghazali memberi resep mengembalikan ketenteraman hidup dengan jalan membelakangi dunia. Karena selama masih ada dunia di tangannya, maka kekotoran hati dan kegelisahan akan tetap ada. Ibarat mustahil mandi madu tanpa dikerumuni lalat atau semut.

Pencucian hati agar dapat mendatangkan ketenteraman batin amat sulit dijalani. Setidaknya ada tujuh langkah, yakni:

  1. Pengamalan “maqam” taubat. Taubat dalam pengertian tasawuf adalah pengalihan dari hidup yang terlena, ke arah hidup yang selalu mengingat Tuhan. Terlena mengingat Tuhan adalah pangkal dari segala dosa dan kemaksiatan. Maka laku mengingat Tuhan adalah langkah awal pembinaan budi luhur. Dzikir lahir batin merupakan jalan pertama;
  2. Sesudah taubat adalah laku wara’ yakni satu laku rohani untuk menjauhi hal-hal yang subhad (tidak jelas halal haramnya);
  3. Laku hidup yang mencari sesuatu yang jelas halalnya. Jadi laku ini 90% budi pekerti luhur;
  4. Laku zuhud, yakni menyedikitkan kebutuhan duniawi yang halal;
  5. Tawakal yakni menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan termasuk pemeliharaannya ;
  6. Laku sabar, yakni tidak mengeluh apapun penderitaan yang ada padanya, karena yakin adanya jaminan pemeliharaan Tuhan; dan
  7. Laku ‘rela” atau ikhlas, bahkan penderitaan dianggapnya sebagai satu “kenikmatan”!

Segala kekotoran duniawi ia singkirkan. Arti menyedikitkan kebutuhan duniawi berarti mengandung arti bahwa tidak dilarang untuk mencari harta, asal halal dan diambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini artinya menjadi “sufi” tidak harus mengasingkan diri dari keramaian duniawi. Orang jawa bilang “topo ngrame”, dan Abu yazid Al Busthami mengatakan: “zuhud (sufisme) adalah tidak memiliki dunia dan tidak dimiliki dunia”. Artinya silakan mencari harta sebanyak-banyaknya (yang halal tentunya), namun jangan menjadi budak dunia.

Rasulullah Muhammad SAW pernah ditanya seorang sahabat: “Ya rasulullah, ada seorang pemuda yang tiap hari kerjanya hanya berdzikir di masjid sampai ia lupa mencari nafkah. Pemuda itu hanya ingat Alloh SWT. Sedangkan kebutuhan makan sehari-harinya disokong oleh kakaknya. Hebat benar pemuda itu cara beribadahnya ya rasul”. Mendengar pujian terhadap sang pemuda yang rajin berdzikir itu Muhammad SAW menjawab: “Yang masuk surga adalah kakaknya!”.

Ini artinya rasululullah mengajarkan bahwa harus ada keseimbangan antara dunia dan akherat. Dunia dicari karena manusia sebagai khalifah dan harta atau materi hanyalah alat untuk beribadah, bukan tujuan. Benda atau materi hanya dapat dibawa mati ketika ditransformasikan atau dirubah “energinya” menjadi nur atau cahaya. Dalam bahasa agama disebut “di-amal saleh-kan”.

Dengan langkah-langkah di atas, diharapkan, kemungkinan orang bunuh diri, mencari dukun agar terkenal, mengkonsumsi narkoba, berselingkuh, dst, tidak akan terjadi. Ia tidak begitu saja akan percaya kepada seseorang “guru”, percaya tuah Gunung Kawi, Gunung Kemukus, pesugihan, dst, karena yang ia yakini adalah pemeliharaan dari Tuhan.

Jika itu dihayati mendalam, tidak akan ada kegelisahan hidup, yang ada ketenteraman. Ini berarti ia telah mencapai maqam tertinggi. Alangkah indahnya memiliki popularitas, materi sekaligus kedalaman spiritualitas. Namun siapa yang sanggup seperti ini? OK pokoknya tetap sehat, tetap semangat, supaya kita tetap “survive” di jaman kalabendhu seperti ini.

Pokoknya urip mung gawe kebecikan.


Saratri WilonoyudhoSaratri Wilonoyudho

Disarikan oleh Saratri Wilonoyudho.
Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat.
Mengajar di Jurusan Teknik Sipil Unnes Semarang Jawa Tengah.

sumber : http://www.caknun.com/2011/09/wong-urip-mung-gawe-apik/

Iklan

PANUNTUN LAKUNING AWAK (PENUNTUN JALANNYA DIRI)


Sinom Macapat

Wong alim-alim pulasan

Njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiyat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambanting

Surban kethu putih mamprung

Wadon nir wadonira

Prabawa salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung maroon tingalira

(Joko lodhang: R. Ng. Ranggawarsita)

Mangkya darajating praja

Kawuryan wus sunyaruri

Rurah pangrehing ukara

Karana tanpa palupi

Atilar silastuti

Sujana sarjana kelu

Kalulun kalatidha

Tidhem tandanging dumadi

Hardayengrat dening hardening rubeda

(Kalatidha: Jaman cacat)


Ratune ratu utama

Patihe patih linuwih

Pra nayaka tyas raharja

Panekare becik-becik

Parandene tan dadi

Paliyasing kala bendu

Malah mangkin andadra

Rubeda kang ngreribeti

Beda-beda hardening wong sak Negara

Memanismu

Memanismu kang ngujiwat

Agawe rujiting galih

Rara apa kang sinedya

Upama mundhuta rukmi

Tartamtu tak turuti

Ibarat wong numpak prahu

Lumampah tanpa welah

Neng madyaning jalanidhi

Temah gonjing anggenjong neng pagulingan

sumber :

http://purwadicitra.wordpress.com/2010/03/26/sinom-macapat/

http://ahmadariandi.ngeblogs.com/category/kehidupan-sosial/

http://onephotopro.blogspot.com/?zx=2554b46bee9ad993

Mari Nembang untuk si Mungil dengan lagu-lagu Jawa


oleh : http://kedaipuisi.wordpress.com

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.

Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.

Gambang Suling…
Gambang suling kumandhang swarane…
Thulat-thulit kepenak unine…
Unine mung nrenyuhake…
Bareng lan kentrung….
Ketipung suling sigrak gambangane….

 

 

Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.

Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.

Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;

Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan

untuk makna dari gundul-gundul pacul bisa dilihat di :(klik pada logo)

 

 

Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit

untuk makna dari sluku-sluku bathok : (klik logo)

Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.

Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.

Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.

Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.

Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.

Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay

Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.

Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter

Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.

Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.

Bagaimana dengan Ibu-ibu?? atau bapak-bapak yang punya ibu atau istri…hehe, mari nembang untuk si mungil.

Selanjutnya ini ada postingan juga, yamg ngebahas tentang tembang dolanan jawa :

oleh : http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

Mungkin untuk generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengenal Lagu Dolanan (jawa) ini, terutama yang lahir diluar daerah jawa tentunya. Tetapi untuk bapak atau eyang kita tentu sangat akrab dengan lagu dolanan karena memang pada jaman dulu permainan modern belum banyak atau bahkan belum ada seperti Play Station misalnya yang menurut saya membuat anak menjadi individualistis atau senang menyendiri.
Dibanding dengan anak-anak masa dulu yang senang berkumpul melakukan kegiatan diluar rumah.

Berikut sebagian “Lagu Dolanan” yang masih saya ingat :

CUBLAK-CUBLAK SUWENG
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong

Sluku-sluku bathok
Sluku-sluku bathok
bathoke ela-elo
si romo menyang solo
oleh-olehe payung moda
tak jenthir ololobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip nggoleko dhuwit

Gotri nagasari
gotri legendri nogosari, ri
riwul iwal- iwul jenang katul, tul
tulen olen-olen dadi manten, ten
tenono mbesuk gedhe dadi opo, po
podheng mbako enak mbako sedeng, deng
dengklok engklak-engklok koyo kodok

Dayohe Teka
Ei.., dayohe teko,
Ei.., jerengno kloso,
Ei.., klosone bedah,
Ei.., tambalen jadah,
Ei.., jadahe mambu,
Ei.., pakakno asu,
Ei.., asune mati,
Ei.., guwangen kali,
Ei.., kaline banjir
Te Kate Dipanah
Te kate dipanah
Dipanah ngisor gelagah
Ana manuk konde-onde
Mbok sirbombok mbok sirkate
Mbok sirbombok mbok sirkate

Gek kepriye
Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah diece
Karo kanca kancane
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe

Pitik Tukung
Aku duwe pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gok petok petok ngendok pitu
Tak ngremake netes telu
Kabeh trondol trondol tanpa wulu
Mondol mondol dol gawe guyu

Ilir-ilir
Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir Tak ijo royo royo..taksengguh temantèn anyar
Cah angon.cah angon..pènèkké blimbing kuwi , Lunyu-lunyu ya pènèken kanggo masuh dodotira
Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir Dondomana jlumatana kanggo séba méngko soré Mumpung padhang rembulané
Mumpung jembar kalangané Ya suraka..surak horéé

Kate – Kate Dipanah
Te kate dipanah
dipanah ngisor nggelagah
ana manuk ondhe ondhe
Mbok sir bombok bok sir kate
Mbok sir bombok mbok sir kate

Menthok – menthok
Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Kupu Kuwi
Kupu kuwi tak encupe
Mung abure ngewuhake
Ngalor-ngidul
Ngetan bali ngulon
Mrana-mrene mung sak paran-paran
Mbokya mencok tak encupe
Mentas mencok clegrok
Banjur mabur kleper

Cempa
Cempa rowa
Pakananmu apa rowa
Tuku gendhing ndhing ndhing ndhing
Rowang rawing wing wing wing
Bong kecebong jarane jaran bopong
Sing nunggangi Semar Bagong
Ecrek-enong ecrek-egung ecrek-enong ecrek-egung

Jago Kate
Jago kate te te te
Kukukluruk … kok
Amecece ce ce ce
Kukukluruk
Dibalang watu bocah kuncung
Keok … kena telehe
Njranthal … pelayune
Mari umuk mari ngece
Si kate katon nyekukruk

PADANG MBULAN
Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

JAMURAN
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…
jamur apa ya ge ge thok…
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?

KODOK NGOREK
Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali
teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung
Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter
bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo

KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil…
si kidang mangan lembayung

DONDHONG APA SALAK
dhondhong apa salak dhuku cilik cilik
gendong apa mbecak mlaku thimik thimik
adhik ndherek ibu tindak menyang pasar
ora pareng rewel ora pareng nakal
mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
kacang karo roti adhik diparingi

PITIK TUKUNG
Aku duwe pitik, pitik tukung..
saben dina, tak pakani jagung
petok gogok petok petok ngendhog siji,
tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol..
tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu…

JARANAN
jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei
sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung
prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing
prok prok gedebug jedher

GUNDHUL-GUNDHUL PACUL
Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan
nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

MENTHOK-MENTHOK
Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,
angisin-isini mbok yo ojo ngetok,
ono kandhang wae enak-enak ngorok,
ora nyambut gawe
menthok, menthok …
mung lakukumu megal megol gawe guyu

GAMBANG SULING
Gambang suling, ngumandhang swarane
tulat tulit, kepenak unine
uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangane

SUWE ORA JAMU
Suwe ora jamu
jamu godong tela
suwe ora ketemu
ketemu pisan gawe gela

TAK LELO LELO LEDUNG
tak lelo lelo lelo ledung…
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadarikaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..

Ada yang mau nambahi, lah su Monggo,…!!! hehe…


Sumber :

– http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/05/belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://www.lazis.info/perlu-kita-tahu/196.html

– http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

– http://kyaicengkir.wordpress.com/2011/09/22/httpsosbud-kompasiana-com20100805belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://punyabagus.blogspot.com/2008/06/rek-ayo-rek.html

– http://gombhalmukiyo.blogdetik.com/makna-di-balik-tembang-gundul-gundul-pacul/

Gendingan, Dahulu dan Kini


 

Tradisi budaya Jawa jaman dahulu selalu berprinsip pada keselarasan alam semesta. Dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua mengajarkan anak-anaknya lewat tembang atau nyanyian. Dengan syair berisi nilai-nilai falsafah hidup, pitutur atau nasihat, pengajaran moral ini ditanamkan lewat lagu-lagu yang diselaraskan dengan alam dan keadaan sekitarnya.

 

Gendingan diciptakan sebagai ungkapan keselarasan manusia dan penciptanya. Ini diwujudkan dalam tindakan sehari-hari dengan memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak. Dalam gamelan hal tersebut diwujudkan pada tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron, kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Ada berjenis-jenis gendingan, ada yang khusus dan ada yang umum. Yang umum adalah yang hadir di masayarakat kebanyakan, dengan tembang-tembang kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang khusus adalah dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Contohnya pada saat upacara pernikahan, saat mengiringi pengantin masuk diiringi dengan tembang “Kebo Giro”, saat mempelai saling bertemu diiringi dengan tembang “Kodok Ngorek”. Ada lagi, pada acara-acara khusus di kerajaan/kesultanan. Gendingan dimainkan secara khusus, dengan syair khusus dan juga gamelan yang khusus.

Gamelan, adalah alat musik gendingan, diambil dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul/menabuh. Jadi gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang ditabuh/dipukul untuk dimainkan bersama. Seperangkat alat musik ini terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking/Gamelan, Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab, Siter, Suling.

Mengenai sejarah terciptanya gamelan sendiri masih simpang siur. Namun dipastikan bahwa gamelan diciptakan pada saat budaya Hindu – Budha dari India berjaya di Indonesia. Ini dibuktikan dengan adanya data-data pada relief Candi Borobudur dan kitab-kitab kesusastraan yang menjadi petunjuk tentang keberadaan gamelan ini. Dalam perkembangannya, gamelan mengalami banyak perubahan menjadi semakin baik hingga seperti sekarang, tetapi tetap mencirikan budaya bawaanya yang sampai sekarang masih menjadi cirri khan gendingan ini, salah satunya adalah istilah bagi penyanyinya, yaitu Wiraswara untuk penyanyi pria, danWaranggana untuk penyanyi wanita.

Menurut Mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dengan alat musik gamelan pertama yang diciptakan adalah “Gong” yang berfungsi sebagai pemanggil para dewa. Kemudian berkembang sebagai penyampai pesan, dimana alat musiknya pun bertambah.

Saat ini gendingan sudah mendunia, dikenal luas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Canada. Tentunya sebagai generasi pewaris budaya, kita harus lebih peduli menjaga dan melestarikan kekayaan tradisional leluhur. Kitalah yang harusnya lebih mencintai dibandingkan bangsa lain.

***

Dari :

 

 

Diolah dari berbagai sumber.

Sumber gambar: http://sekarjowo.blogspot.com

 

Pesan Sri Aji Joyoboyo


Salah satu ajaran untuk mencari kesempurnaan hidup (kasampurnaning urip) adalah dengan mempelajari Layang Joyoboyo. Dalam layang tersebut Sri Aji Joyoboyo menuliskan petuah terhadap generasi mudah khususnya bangsa Jawa untuk tidak melupakan ajaran Kejawen. Layang ini ditulis dengan huruf Jawa asli dan terdapat 75 halaman. Apa saja yang bisa kita pelajari? Dan bagaimana bunyi Layang Joyoboyo tersebut? Inilah kutipannya.

makam sri aji joyobo di kediri, jawa timur

HODJOBROLO :1
Gusti ingkang moho welas asih lan moho wicaksono,ugo Gusti uwes maringi pangerten marang bongso jowo lan djalmo manungso kang ono ing jagat iki.tumindakho kang becik marang sapodo padaning urip. ugo tumindakho kang jujur marang gusti nganggo roso kang ono ing rogo siro,semono ugo gusti bakal maringi balesan  marang opo  kang siro lakokake ing bumi mulyo kene,ugo ing bumi sentoso mengkene.
(Gusti yang maha pengasih dan bijaksana, juga Gusti yang memperikan pengertian terhadap bangsa Jawa dan semua manusia di Jagad ini. Bertindaklah yang baik terhadap sesama makhluk hidup. Juga bertindaklah yang jujur terhadap Gusti dengan menggunakan rasa yang ada di ragamu, dengan begitu Gusti akan memberi balasan terhadap apa yang telah kamu lakukan di bumi yang mulya dan sentosa ini)

HODJOBROLO :2
Gusti kang moho mekso,marang ukum kang dadi kekarepane,ugo gusti kang pareng sekso marang sopo kang tumindak cidro. amergo sabdaning gusti kuwi ora ono kang biso ngalang-ngalangi.semono ugo kekarepane gusti.
(Gusti yang maha memaksa, terhadap hukum yang jadi kehendakNYA, juga Gusti yang memberikan siksa terhadap siapa saja yang bertindak buruk. Karena sabdanya Gusti itu tidak ada yang bisa menghalang-halangi, begitu juga kehendakNYA)

HODJOBROLO:3
gusti kang moho kuwoso kang njogo langit  sarto bumi ,semono ugo gusti kang moho kuwoso njogo kahuripan kang katon ono ugo kang ora katon,lan sak isine kang ono ing jagat iki,tanpo kuwasane gusti kang moho suci bakal sirno jagad iki ,semono ugo bakal ora ono kahuripan sak iki.
(Gusti yang hama kuasa yang menjaga langit dan bumi, begitu juga Gusti yang maha kuasa menjaga kehidupan yang tampak juga yang tak tampak, dan semua yang ada di jagad ini, tanpa kuasa Gusti yang maha suci bakal sirna jagad ini, begitu juga bakal tidak ada kehidupan sekarang)

HADJOBROLO:4
gusti kang pareng balesan bongso jowo kang ora melu marang dalane gusti ,lan gusti pareng sabda:siro bongso jowo yen percoyo marang gusti turutono opo kang dadi panjaluke gusti,anangeng yen siro ora percoyo,kasengsarane urip siro bakal teko.
(Gusti yang memberi balasan terhadap Bangsa Jawa yang tidak ikut terhadap aturan Gusti, dan Gusti memberi sabda: Kalian Bangsa Jawa kalau percaya terhadap Gusti ikutilah apa yang menjadi perintah Gusti, tetapi kalau kalian tidak percaya, kesengsaraan hidup kalian bakal datang)

HADJOBROLO:5
gusti uwes maringi sabdo marang aku kang tak tulis ono ing kitab joyoboyo,bongso jowo kabeh kang nglalekake gusti uripe bakal kurang  sandang lan pangan,ugo lemah kang mahune ijo bakal tak garengake koyo mahune nganti akhir siro kabeh nduweni katentreman.
(Gusti sudah memberikan sabda terhadap aku yang kutulis dalam kita Joyoboyo, Bangsa Jawa semua yang melupakan Gusti hidupnya bakal kekurangan sandang dan pangan, juga tanah yang semula subur bakal kering kerontang seperti asalnya hingga akhirnya kalian semua memiliki ketentraman)

HADJOBROLO:6
gusti kang pareng sabdo kajawen diturunake ing tanah jowo soko kuwasane gusti kang moho wicaksono, supoyo bongso jowo kuwi biso nduweni kahuripan kang sampurno ing bumi mulyo kene lan mirangake opo kang dadi panjaluke gusti  anangeng siro biso ngrasake kahuripan yen siro kuwi ing bebayan.
(Gusti yang memberi sabda Kejawen diturunkan di tanah Jawa dari kuasa Gusti yang maha bijaksana, supaya bangsa Jawa itu bisa memiliki kehidupan yang sempurna di bumi yang mulya ini dan mendengarkan apa yang menjadi perintah Gusti dan kalian bisa merasakan kehidupan saat dalam keadaan bahaya)

HODJOBROLO:7
gusti kang njunjung drajat kahuripane kawulo lan iki kang dadio sabdaning gusti marang bongso jowo kabeh,kang iseh mangerteni marang opo kang dadi kekarepane gusti,semono ugo gusti bakal njunnjung derajat kasengsarakane uripe bongso jowo yen bongso jowo kuwi mangerteni ukume gusti.
(Gusti yang menjunjung derajat kehidupan rakyat dan ini yang menjadi sabda Gusti terhadap bangsa Jawa semua, yang masih memahami terhadap apa yang menjadi perintah Gusti, dengan demikian Gusti akan menjunjung derajat kesengsaraan hidup bangsa Jawa ketika bangsa Jawa itu mengerti hukumnya Gusti)

hODJOBROLO:8
siro bongso jowo sejatine nduweni pangomongane gusti kang moho kuwoso kang pareng pepadange kahuripan,supoyo dalan siro kang peteng biso dadi padang,anangeng siro bongso jowo malah ngalekake pangomongane gusti kang tinulis ono kitab joyoboyo.
(Kalian bangsa Jawa sejatinya dipelihara Gusti yang maha kuasa yang memberi terang kehidupan, supaya jalan kalian yang gelap bisa menjadi terang, tetapi kalian bangsa Jawa malah melupakan Gusti yang memelihara kalian seperti yang tertulis di kitab Joyoboyo)

HODJOBROLO:9
siro bongso jowo arep nyuwun opo maneh marang gusti sebab kadegdayan kabeh uwes ono ing rogo siro lemah kang mahune gareng biso telesake ,ugo lemah kang mahune teles biso siro garengake yen siro kuwi percoyo marang kuwasane gusti,sebab kahuripane bongso jowo kang ora percoyo marang gusti bakal nemokake kasengsaran kang gede ing tembe mburine.
(Kalian bangsa Jawa mau memohon apa lagi pada Gusti sebab semua kejadian sudah ada di raga kalian. Tanah yang tadinya kering bisa menjadi basah, juga tanah yang tadinya basah bisa kalian keringkan kalau kalian percaya terhadap kuasa Gusti, sebab kehidupan bangsa Jawa yang tidak percaya terhadap Gusti akan menemukan kesengsaraan yang besar di belakang hari).

HODJOROLO :9
Gusti kang pareng sabdo bongso jowo ,yo kuwi bongso kang wiwitan kang dadi ciptakane gusti kang teko ing bumi mulyo iki kang nggowo kuasane gusti ,sak durunge ono jalmo manungso ,anangeng sabdaning gusti kang uwes katulis ingkitab joyoboyo:siro bongso jowo yen bumi mulyo iki uwes kebak karo jalmo manungso kang dadi ciptakane gusti.siro bongso jowo bakal lali marang agama peparingane gusti marang isine kitab joyoboyo.
(Gusti yang memberi sabda pada bangsa Jawa, yaitu bangsa awal yang menjadi ciptaan Gusti yang datang di bumi yang mulya ini yang membawa kuasa Gusti sebelum ada manusia, sabda Gusti yang sudah tertulis dalam kitab Joyoboyo: Kalian bangsa Jawa jikalau bumi mulya ini sudah penuh dengan umat manusia yang menjadi ciptaan Gusti, kalian bangsa Jawa bakal lupa terhadap agama (tuntunan) pemberian Gusti lewat isi Kitab Joyoboyo)

HODJOROLO 10
Gusti kang moho mriksani marang kedadean kang nyoto,marang tumindake bongso jowo kang ora nerimo marang peparingane gusti kang mohosuci.banjur gusti pareng sabdo:yen tanah jowo katekan jalmo manungso liyo kang dadi ciptakane gusti .agamo jowo lan isine kitab joyoboyo kang ditules bongso jowo bakal tak sirnakake dene kuwasane gusti kang moho suci.
(Gusti yang maha melihat terhadap kejadian yang nyata, pada tindak-tanduk bangsa Jawa yang tidak bersyukur terhadap pemberian Gusti yang maha suci. Maka Gusti akan memberi sabda: Jika tanah Jawa sudah kedatangan manusia lain yang menjadi ciptaan Gusti. Agama (tuntunan) Jawa dan isi kitab Joyoboyo yang ditulis bangsa Jawa bakal aku sirnakan dengan kuasa Gusti yang maha suci)

HODJOROLO:11
Lan bongso jowo ora bakal iso maneh mangerteni marang agamane bongso jowo kang tekane soko gusti.banjur goro goro kuwi teko lan ndadekake kahurioane bongso jowo,lali marang asal usule lan ninggalake marang wekasane gusti kang moho suci kang uwes katulis ono ing kitab joyoboyo kanggone bongso jowo.
(Dan bangsa Jawa tidak bakal bisa lagi memahami terhadap agama (tuntunan) bangsa Jawa yang datangnya dari Gusti. Karena lantaran itu datang dan menjadikan kehidupan bangsa Jawa, lupa terhadap asal-usulnya dan meninggalkan terhadap pesan Gusti yang maha suci yang sudah kutulis dalam kitab Joyoboyo terhadap bangsa Jawa)

HODJOROLO:13
Gusti kang pareng dawoh :bongso kang mahune diparingi kadegdayan marang gusti ,malah ditinggalake. nganti akhire sabdoning guti kuwi teko ,ngrusak kahuripane bongso jowo ,lan bongso jowo sopo wahe kang ora mirengake opo kang dadi kekarepane gusti,ugo ninggalake marang wekasane gusti bakal keno ukumane gusti kang gedhe ,semono ugo siro kabeh bakal ora bakal biso nyuwun panguksumo,kajoboi nrimo marang ukumane gusti kang pareng sikso marang bongso jowo kang uwes katukis ono kitab joyoboyo.
(Gusti yang memberi perintah: bangsa yang tadinya diberi kesaktian oleh Gusti, malah ditinggalkan. Hingga akhirnya sabda buruk itu datang, merusak kehidupan bangsa Jawa, dan bangsa Jawa siapa saja yang tidak mendengarkan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan pesan Gusti bakal terkena hukuman yang besar, begitu juga kalian semua bakal tidak bisa minta ampun, kecuali menerima terhadap hukuman Gusti yang memberikan siksa terhadap bangsa Jawa yang sudah tertulis dalam kitab Joyoboyo)

LAYANG JOYOBOYO (2)
HOSOROPOLO
Gusti pareng dawuh marang aku: siro bongso jowo sejatine uwes diparingi gusti kadegdayan ,kanggo kaperluane siro sak bendinane  awet tanah jowo kang mahune gundul gusti dadekake ijo supyo siro bongso jowo biso krasan marang panggenan kang anyar iki.
(Gusti memberi perintah pada diriku: Kalian bangsa Jawa sejatinya sudah diberi Gusti kesaktian, untuk keperluan kalian setiap harinya karena tanah Jawa yang tadinya gundul dibuat hijau supaya kalian bangsa Jawa bisa kerasan di tempat yang baru ini)

HOSOROPOLO
Anangeng  sabdaning gusti kang tak tulis ono kitab joyoboyo kanggone siro bongso jowo ,gusti pareng dawoh siro bongso jowo bakal ninggalake agomo peparingane gusti kang moho suci,lan gusti pareng sabdo siro bongso jowo bakal lungo adoh kanggo nggoleki asmane gusti ,siro dewe ora bakal duwe ketentreman yen siro kuwi lali marang asmane gusti kang uwes temurun kanggone siro kabeh ing tanah jowo.
(Tetapi sabda Gusti yang kutulis di kitab Joyoboyo bagi kalian bangsa Jawa, Gusti memberi kabar kalian bangsa Jawa bakal meninggalkan agama (tuntunan) pemberian Gusti yang maha suci, dan Gusti memberikan sabda terhadap kalian bangsa Jawa bakal pergi jauh untuk mencari asma (nama) Gusti, kalian sendiri tidak bakal memiliki ketentraman kalau kalian lupa terhadap asma (nama) Gusti yang sudah diturunkan untuk kalian semua di tanah Jawa)

HOSOROPOLO
Sebab sabdoning gusti kang uwes tak tulis ono kitab joyoboyo kanggone siro malah siro tinggalake.menyang monco endi wahe siro lungo lan iki sabdaning gusti ,bongso jowo ora bakal nduwe ketentreman nganti wanci bali ono ing ngersane gusti.
(Sebab sabda dari Gusti yang sudah kutulis di kitab Joyoboyo untuk kalian malah kalian tinggalkan. Pergi keluar negeri mana saja kalian dan ini sabda Gusti, bangsa Jawa tidak bakal memiliki ketentraman hingga saat kembali ke haribaan Gusti)

HOSOROPOLO
Amergo pangerteni gusti kuwi luwih duwur katimbang siro bongso jowo kang diparing gusti : budi, roso,pikiran lan angen2 ,supoyo siro biso mangerteni marang dununge kahuripan kang tekane soko gusti ,anangeng djalmo manungso kang dadi ciptane gusti kuwi,ngendiko marang siro,iki sejatine agamane siro ,sejatine jalmo manungso kuwi ngapusi marang siro sebab siro jalmo manungso wiwitan  teko ono ing jagat kang nggowo agamane gusti.
(Karena pemahaman terhadap Gusti itu lebih tinggi daripada kalian bangsa Jawa yang diberi Gusti: budi, rasa, pikiran dan angan-angan, supaya kalian bisa memahami terhadap keberadaan hidup yang datangnya dari Gusti, tetapi umat manusia yang menjadi ciptaan Gusti itu, berkata terhadap kalian, ini sjeatinya agama kalian, sejatinya manusia itu menipu terhadap kalian sebab kalian adalah manusia pertama yang datang di jagad dengan membawa agamanya Gusti)

HOSOROPOLO
 
Gusti kang pareng sabdo ; bongso jowo kabeh kang ono ing jagat iki bakal ora mirengake maneh marang ngendikane gusti awit sabdoning gusti uwes luweh disik teko.
(Gusti yang memberi sabda: bangsa Jawa semua yang ada di jagad ini bakal tidak mendengarkan lagi terhadap perintah Gusti sebab sabda Gusti sudah datang terlebih dahulu)

HOSOROPOLO
Banyu kang mahune resik bakal dadi reget yen siro bongso jowo kuwli lali marang wekasane gusti ,ugo asmane gusti kang manggon ono ing roso siro.bakal sirno soko kahuripane bongso jowo semono ugo kasumparnane gusti kang papat kang ditetesake ing bumi suci bakal sirno soko kahuripane siro
(Air yang tadinya bersih bakal menjadi kotor jika kalian bangsa Jawa lupa terhadap perintah Gusti, juga asma (nama) Gusti yang tinggal di dalam rasa kalian. Bakal sirna dari kehidupan bangsa Jawa begitu juga empat kesempurnaan Gusti yang diteteskan di bumi suci ini bakal sirna dari kehidupan kalian)

HOSOROPOLO
Gusti kang moho kuwoso kang pareng keslametan dumateng kawulo rino klawan wengi  among panjenengane gusti kulo pasrahaken gesang lan sedoh kawulo sirno bebayan sakeng  kuwoso panjenengan kagem sak lawase lan iki kang dadi sabdaning gusti marang bongso jowo kang isih mangerteni kuwasane gusti.
(Gusti yang maha kuasa yang memberi keselamatan padaku siang dan malam, hanya padaMU Gusti saya pasrahkan hidup dan matiku sirna semua bahaya dari kuasaMU untuk selamanya dan ini yang menjadi sabda Gusti terhadap bangsa Jawa yang masih memahami kuasanya Gusti)

disadur dari :

Kidung Rumeksa Ing Wengi


Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

disadur dari :

Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

sumber :

– Sunan Kalijaga

http://www.indospiritual.com

http://herdoniwahyono.blogspot.com

Oleh : Blog-suwandono

MENATAP zaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi nenek moyang kita jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman).

Salah satu alternatif dari sumbangan orang Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca ”Kidung Rumekso Ing Wengi”(KRIW), yang merupakan karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering dilantunkan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi.

Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.

Laku kidung ini mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain; Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. Pembebas semua benda . Pemyembuh penyakit, termasuk gila. Pembebas pageblug. Pemercepat jodoh bagi perawan tua. Menang dalam perang . Memperlancar cita-cita luhur dan mulia.

Siapa yang tidak ingin selamat dalam hidupnya ? Semua manusia ingin selamat. Tidak ada yang ingin celaka. Ucapan “selamat ” diucapkan dalam berbagai bahasa di dunia. Assalamu ‘alaikum, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam; good morning, good night dan sebagainya. Manusia bila bertemu saling mendoakan agar masing-masing selamat (assalamu ‘alaikum). Selamat dirinya, keluarganya, harta bendanya. Uangnya ditaruh di lemari besi, didepositokan di bank biar selamat. Pakai helm standar dan sabuk pengaman bila berkendaraan motor atau mobil. Pakai rompi anti peluru, CCTV, alat detektor logam dan bahan peledak, payung cadangan, tangga darurat, alat peringatan dini gelombang tsunami, kamuflase, jasa pengawalan, pengawal pribadi atau bodyguard yang kesemuanya itu dengan tujuan ingin aman atau selamat.

Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh manusia agar selamat, diantaranya melalui doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti mantra atau doa keselamatan yang terkandung dalam Kidung Rumeksa ing Wengi. Mantra atau doa ini tercantum dalam Buku Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga karangan Achmad Chodjim Penerbit PT. Serambi Ilmu Semesta Jakarta.

download mp3 :: Kidung Rumeksa Ing Wengi

Jawa dalam agama dan budaya


Oleh :: Rangga Dusy

Sebagian besar orang Jawa berusaha menyelaraskan berbagai konsep pandangan leluhurnya dengan tata cara yang diajarkan Islam. Hal ini bisa dilihat dari penyaduran orang Jawa dengan alam kodrati (dunia fana) dan alam adi kodrati (alam gaib), sehingga lahirlah ritual ruwatan Jawi-Islami yang mengusung konsep Islami namun tetap dibumbui tradisi dan adat Jawa. Seperti halnya larung (sesaji yang biasa dipersembahkan di laut atau sungai-sungai besar), kendhuri atau selamatan (melakukan doa bersama dan bersedekah sebagai ungkapan rasa syukur atau agar diberi keselamatan), dan sebagainya.

Jauh sebelum agama-agama masuk ke Jawa, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal dan berkeyakinan bahwa ada seseorang atau sesuatu yang menjadikan dan mengatur alam serta seisinya yang layak untuk dijadikan Tuhan. Sehingga ketika agama-agama baru masuk ke Jawa, tak pernah sedikitpun terjadi bentrokan yang disebabkan dari penolakan masuknya agama tersebut. Karena sudah menjadi tabiat orang Jawa dulu, mereka tak pernah berpikir tentang imbas akulturasi ataupun asimilasi yang sehingga bisa melunturkan adat-istiadat yang sudah terlaku turun temurun.


Pola berpikir seperti ini tak lain merupakan upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara sesama makhluk yang tersebar di jagat raya ini, lantas membawanya ke suatu pengembaraan yang tak pernah berhenti. Sehingga ketika ada hal-hal baru yang mereka anggap bisa menunjukan jalan menuju titik cerah perjalanannya, pastilah mereka ikuti. Sebagaimana pengembaraan iman yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as. ketika pertama kali beliau keluar dari goa persembunyiannya. Saat melihat bintang, beliau berkata: “Inilah Tuhanku,” kata Nabi Ibrahim. Namun, ketika tenggelam beliau berkata, “Tuhanku bukanlah yang tenggelam.” Kemudian ketika bulan muncul, maka beliau berpikir bahwa Tuhan adalah bulan. Demikian pula ketika bulan tenggelam dan terbitlah matahari, beliau beranggapan bahwa Tuhan adalah matahari, karena lebih besar dan terang. Setelah semua hilang dan redup silih berganti, terbukalah beliau bahwa Tuhan bukanlah seperti yang dipersekutukan para kaumnya (Lihat QS. Al-An’am 76-69).

Begitu pula yang terjadi pada orang Jawa pra-agama. Dari pengembaraan mereka mencari kebenaran Sang Hyang Murbaning Dumadi, muncullah beberapa keyakinan seperti halnya animisme dinamisme, yaitu penyembahan terhadap roh dan benda-benda yang memberi tuah dan memiliki kekuatan. Kepercayaan seperti ini terjadi, karena mereka berfikir bahwa adanya perjalanan alam dan isinya ini tentu ada yang menciptakan dan mengatur agar terjadi stabilitas antar sesama. Faktor seperti inilah yang menjadikan masyarakat Jawa dapat cepat beradaptasi dengan kedatangan agama-agama yang baru.

Cara berinteraksi budaya Jawa dengan Islam tergolong unik. Dalam penyebutan apapun yang diyakini suci atau dipandang mulia, mereka memberikan sebuah apresiasi maha tinggi, sebagaimana penyebutan Tuhan dengan Gusti Allah Ingkang Murbaning Dumadi dan juga keyakinan bahwa Rasul Saw sangat dekat dengan Allah, sehingga hampir dalam semua upacara ritual mereka selalu menyebutkan nama Allah Kang Moho Kuwaos dan Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sumare wonten siti Madinah (Koentjaraningrat)
Peng-islam-an masyarakat Jawa tidaklah terlalu sulit. Karena, selain penyebar Islam kala itu kebanyakan adalah kalangan Islam sufi yang tidak membekali diri dengan ilmu kepemimpinan dan tidak menginginkan kepemimpinan, juga dilatar belakangi jiwa seni dan sastra masyarakat Jawa. Sehingga ketika para Walisongo dengan dipandegani Sunan Kalijaga menyebarkan agama dengan media seni wayang, gamelan, dan sastra Arab, yang dibaurkan dengan budaya Jawa, dapat diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Tingginya nilai seni dan sastra bagi masyarakat Jawa telah ada sebelum agama Islam masuk. Dengan bukti adanya candi dan relif-relif kuno, serta banyaknya kaligrafi ukir dan serat yang dibuat oleh para pujangga. Setelah Islam masuk, kesenian dan kesustraan Jawa mulai dikolaborasikan oleh Walisongo. Dimulai pertama kali dengan wujudnya seni wayang dan gamelan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga tersebut, berlanjut dengan sastra yang diramu oleh Sunan Kalijaga dalam media dakwahnya.

Sesaat setelah kolonial Belanda merangsek masuk ke Indonesia, kesenian dan kesustraan Jawa mulai tersisihkan. Karena kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh pemerintah kolonial saat itu memang menyulitkan masyarakat untuk berkutat di bidang seni dan sastra. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang merasa prihatin dengan kondisi demikian. Kala itu, sedikit demi sedikit Sultan Agung mulai membuat strategi guna merangsang para pujangga Jawa untuk mengimprovisasikan sastra. Guna menggairahkan jiwa seni dan sastra, Sultan Agung mencoba membaurkan sastra Arab dari lingkungan pesantren dan sastra Jawa dari budaya kejawen. Akhirnya, strategi Sultan Agung itu berhasil, sehingga muncullah hasil kreatifitas para pujangga yang dituangkan dalam bentuk tembang macapatan dan serat seperti halnya serat centhini, babad tanah demak, dan lain sebagainya.

Kemudian kala seni dan sastra Jawa mulai bangkit lagi dengan pembauran berbagai bahasa dan budaya, maka timbullah sastra Jawa yang digubah kembali dengan menyatukan sastra Jawa kuno yang diperhalus dengan unsur-unsur yang berbau sufistik. Sebagaimana ramalan-ramalan Ranggawarsita tentang kejadian alam yang disarikan dari al Quran dan Hadis.

Terahir, sebagaimana ;

“Tumindakho kang djudjor marang roso siro. Awet roso kuwi tjahyoning Gusti kang moho sutji. Kang manggon ono ing rogo siro, odjo diregetake.”

                                                             

Petilasan Joyo boyo di Kediri

Arti bebasnya kurang lebih demikian; berbuatlah jujur pada dirimu sendiri, karena dari situlah munculnya cahaya Tuhan yang Maha Suci, yang menetap dalam ragamu. Janganlah kau kotori.

(http://misykat.lirboyo.net/jawa-dalam-agama-dan-budaya/)