Galeri

Hotpants adalah cara memdedakan Paha Ayam dan Paha Cewek

This gallery contains 7 photos.


ada sebuah kutipan cerita nieh : “Saya heran, mengapa cewek justru lebih agresif menggunakannya. Sedangkan cowok sendiri tidak begitu banyak yang suka memakai celana pendek, apalagi saat keluar rumah atau kost. Padahal kalau dari segi ativitas cowok mungkin lebih mendominasi … Baca lebih lanjut

Kisah Ken Dedes dalam Tiga Generasi


KEN DEDES memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur dan menyuguhkan persoalan wanita, mulai feminisme hingga harga diri perempuan.


Pentas Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta, 18-19 Oktober, ini memang memperlihatkan benturan- benturan antara masa lalu dan masa kini.Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba).

Benturan sosial, feminisme, dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk. Pentas dibuka dengan suara musik etnik berbaur dengan instrumen techno.Lalu satu per satu,para dedesmuncul bergantian. Diawali Dedes Rahim muncul dari balik batu. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dialah rahim purba techno.Tempat segala terlahir dan tertimbun.Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim. Jejak kaki Ken Dedes. Silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman.

Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub.Ia melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu, dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara berdiri di atas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukkan penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara. “Aku ingin sanggama lagi, agar aku dapat lebih mengenal jejakku.Aku ingin sanggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku,aku ingin telanjang,” “Jaga lidahmu”tutur Dedes Purba.

“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku.” “Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat Dedes,” hardik,Dedes Purba kesal. Dalam pentas ini,para dedes tampil dengan karakter masing- masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma. Dari tampilan saja, tabrakan itu sudah terlihat.Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban, sementara Dedes Techno gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminin, yang serbabebas, serba hedon. Tempat di mana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern.

Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan. “Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana prameswari,” tegas Dedes Techno. Sedangkan kemunculan Dedes Rahim,lebih pada sebagai penengah.Penengah di antara benturan-benturan yang dimunculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno. “Aku rahimmu.Rahim yang kau lupakan.Putarlah wajah pada cahaya bulan,biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya.

Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,”ujar Dedes Rahim. Lakon Techno Ken Dedes yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturanbenturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali”sesuai khitahnya. Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksplorasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat.

Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya. Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes. Sosok ini dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik.Munculnya tiga dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan. Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok.Namun,Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka.Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat.Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius.

Toh, banyak banyolan sejak munculnya Arok. StageCornerCommunitydalam produksinya yang kelima ini, sengaja mengolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Properti cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba.Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yangmasihada.

Adapun bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini.Karena itulah,Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat.

sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/438016/

Suluk-suluk Sunan Bonang


Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.
Apa itu suluk? suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).


Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (Ibid).
Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).
Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.
Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, yaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia yaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat diumpamakan seperti kesatuan transenden antara tindakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamaan ini dapat dirujuk kepada perumpamaan serupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mukmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

Suluk Jebeng
Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil
Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil (SW). Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.
Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.

Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba
2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun
Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada
3
Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan

4
Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada
5
Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning
Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora
Artinya, lebih kurang:
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahasia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya Sudah
Wujil Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblat dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu unik, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.

Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat
7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta
8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman
9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira
… 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama
Artinya lebih kurang:
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Ked,ua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).

sumber : http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-1.html,

http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-2.html,

http://ilalangkota.blogspot.com/2011/04/suluk-wragul-sunan-bonang.html

PANUNTUN LAKUNING AWAK (PENUNTUN JALANNYA DIRI)


Sinom Macapat

Wong alim-alim pulasan

Njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiyat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambanting

Surban kethu putih mamprung

Wadon nir wadonira

Prabawa salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung maroon tingalira

(Joko lodhang: R. Ng. Ranggawarsita)

Mangkya darajating praja

Kawuryan wus sunyaruri

Rurah pangrehing ukara

Karana tanpa palupi

Atilar silastuti

Sujana sarjana kelu

Kalulun kalatidha

Tidhem tandanging dumadi

Hardayengrat dening hardening rubeda

(Kalatidha: Jaman cacat)


Ratune ratu utama

Patihe patih linuwih

Pra nayaka tyas raharja

Panekare becik-becik

Parandene tan dadi

Paliyasing kala bendu

Malah mangkin andadra

Rubeda kang ngreribeti

Beda-beda hardening wong sak Negara

Memanismu

Memanismu kang ngujiwat

Agawe rujiting galih

Rara apa kang sinedya

Upama mundhuta rukmi

Tartamtu tak turuti

Ibarat wong numpak prahu

Lumampah tanpa welah

Neng madyaning jalanidhi

Temah gonjing anggenjong neng pagulingan

sumber :

http://purwadicitra.wordpress.com/2010/03/26/sinom-macapat/

http://ahmadariandi.ngeblogs.com/category/kehidupan-sosial/

http://onephotopro.blogspot.com/?zx=2554b46bee9ad993

Mari Nembang untuk si Mungil dengan lagu-lagu Jawa


oleh : http://kedaipuisi.wordpress.com

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.

Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.

Gambang Suling…
Gambang suling kumandhang swarane…
Thulat-thulit kepenak unine…
Unine mung nrenyuhake…
Bareng lan kentrung….
Ketipung suling sigrak gambangane….

 

 

Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.

Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.

Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;

Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan

untuk makna dari gundul-gundul pacul bisa dilihat di :(klik pada logo)

 

 

Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit

untuk makna dari sluku-sluku bathok : (klik logo)

Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.

Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.

Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.

Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.

Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.

Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay

Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.

Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter

Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.

Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.

Bagaimana dengan Ibu-ibu?? atau bapak-bapak yang punya ibu atau istri…hehe, mari nembang untuk si mungil.

Selanjutnya ini ada postingan juga, yamg ngebahas tentang tembang dolanan jawa :

oleh : http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

Mungkin untuk generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengenal Lagu Dolanan (jawa) ini, terutama yang lahir diluar daerah jawa tentunya. Tetapi untuk bapak atau eyang kita tentu sangat akrab dengan lagu dolanan karena memang pada jaman dulu permainan modern belum banyak atau bahkan belum ada seperti Play Station misalnya yang menurut saya membuat anak menjadi individualistis atau senang menyendiri.
Dibanding dengan anak-anak masa dulu yang senang berkumpul melakukan kegiatan diluar rumah.

Berikut sebagian “Lagu Dolanan” yang masih saya ingat :

CUBLAK-CUBLAK SUWENG
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong

Sluku-sluku bathok
Sluku-sluku bathok
bathoke ela-elo
si romo menyang solo
oleh-olehe payung moda
tak jenthir ololobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip nggoleko dhuwit

Gotri nagasari
gotri legendri nogosari, ri
riwul iwal- iwul jenang katul, tul
tulen olen-olen dadi manten, ten
tenono mbesuk gedhe dadi opo, po
podheng mbako enak mbako sedeng, deng
dengklok engklak-engklok koyo kodok

Dayohe Teka
Ei.., dayohe teko,
Ei.., jerengno kloso,
Ei.., klosone bedah,
Ei.., tambalen jadah,
Ei.., jadahe mambu,
Ei.., pakakno asu,
Ei.., asune mati,
Ei.., guwangen kali,
Ei.., kaline banjir
Te Kate Dipanah
Te kate dipanah
Dipanah ngisor gelagah
Ana manuk konde-onde
Mbok sirbombok mbok sirkate
Mbok sirbombok mbok sirkate

Gek kepriye
Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah diece
Karo kanca kancane
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe

Pitik Tukung
Aku duwe pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gok petok petok ngendok pitu
Tak ngremake netes telu
Kabeh trondol trondol tanpa wulu
Mondol mondol dol gawe guyu

Ilir-ilir
Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir Tak ijo royo royo..taksengguh temantèn anyar
Cah angon.cah angon..pènèkké blimbing kuwi , Lunyu-lunyu ya pènèken kanggo masuh dodotira
Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir Dondomana jlumatana kanggo séba méngko soré Mumpung padhang rembulané
Mumpung jembar kalangané Ya suraka..surak horéé

Kate – Kate Dipanah
Te kate dipanah
dipanah ngisor nggelagah
ana manuk ondhe ondhe
Mbok sir bombok bok sir kate
Mbok sir bombok mbok sir kate

Menthok – menthok
Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Kupu Kuwi
Kupu kuwi tak encupe
Mung abure ngewuhake
Ngalor-ngidul
Ngetan bali ngulon
Mrana-mrene mung sak paran-paran
Mbokya mencok tak encupe
Mentas mencok clegrok
Banjur mabur kleper

Cempa
Cempa rowa
Pakananmu apa rowa
Tuku gendhing ndhing ndhing ndhing
Rowang rawing wing wing wing
Bong kecebong jarane jaran bopong
Sing nunggangi Semar Bagong
Ecrek-enong ecrek-egung ecrek-enong ecrek-egung

Jago Kate
Jago kate te te te
Kukukluruk … kok
Amecece ce ce ce
Kukukluruk
Dibalang watu bocah kuncung
Keok … kena telehe
Njranthal … pelayune
Mari umuk mari ngece
Si kate katon nyekukruk

PADANG MBULAN
Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

JAMURAN
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…
jamur apa ya ge ge thok…
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?

KODOK NGOREK
Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali
teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung
Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter
bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo

KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil…
si kidang mangan lembayung

DONDHONG APA SALAK
dhondhong apa salak dhuku cilik cilik
gendong apa mbecak mlaku thimik thimik
adhik ndherek ibu tindak menyang pasar
ora pareng rewel ora pareng nakal
mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
kacang karo roti adhik diparingi

PITIK TUKUNG
Aku duwe pitik, pitik tukung..
saben dina, tak pakani jagung
petok gogok petok petok ngendhog siji,
tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol..
tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu…

JARANAN
jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei
sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung
prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing
prok prok gedebug jedher

GUNDHUL-GUNDHUL PACUL
Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan
nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

MENTHOK-MENTHOK
Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,
angisin-isini mbok yo ojo ngetok,
ono kandhang wae enak-enak ngorok,
ora nyambut gawe
menthok, menthok …
mung lakukumu megal megol gawe guyu

GAMBANG SULING
Gambang suling, ngumandhang swarane
tulat tulit, kepenak unine
uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangane

SUWE ORA JAMU
Suwe ora jamu
jamu godong tela
suwe ora ketemu
ketemu pisan gawe gela

TAK LELO LELO LEDUNG
tak lelo lelo lelo ledung…
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadarikaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..

Ada yang mau nambahi, lah su Monggo,…!!! hehe…


Sumber :

– http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/05/belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://www.lazis.info/perlu-kita-tahu/196.html

– http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

– http://kyaicengkir.wordpress.com/2011/09/22/httpsosbud-kompasiana-com20100805belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://punyabagus.blogspot.com/2008/06/rek-ayo-rek.html

– http://gombhalmukiyo.blogdetik.com/makna-di-balik-tembang-gundul-gundul-pacul/

Gendingan, Dahulu dan Kini


 

Tradisi budaya Jawa jaman dahulu selalu berprinsip pada keselarasan alam semesta. Dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua mengajarkan anak-anaknya lewat tembang atau nyanyian. Dengan syair berisi nilai-nilai falsafah hidup, pitutur atau nasihat, pengajaran moral ini ditanamkan lewat lagu-lagu yang diselaraskan dengan alam dan keadaan sekitarnya.

 

Gendingan diciptakan sebagai ungkapan keselarasan manusia dan penciptanya. Ini diwujudkan dalam tindakan sehari-hari dengan memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak. Dalam gamelan hal tersebut diwujudkan pada tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron, kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Ada berjenis-jenis gendingan, ada yang khusus dan ada yang umum. Yang umum adalah yang hadir di masayarakat kebanyakan, dengan tembang-tembang kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang khusus adalah dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Contohnya pada saat upacara pernikahan, saat mengiringi pengantin masuk diiringi dengan tembang “Kebo Giro”, saat mempelai saling bertemu diiringi dengan tembang “Kodok Ngorek”. Ada lagi, pada acara-acara khusus di kerajaan/kesultanan. Gendingan dimainkan secara khusus, dengan syair khusus dan juga gamelan yang khusus.

Gamelan, adalah alat musik gendingan, diambil dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul/menabuh. Jadi gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang ditabuh/dipukul untuk dimainkan bersama. Seperangkat alat musik ini terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking/Gamelan, Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab, Siter, Suling.

Mengenai sejarah terciptanya gamelan sendiri masih simpang siur. Namun dipastikan bahwa gamelan diciptakan pada saat budaya Hindu – Budha dari India berjaya di Indonesia. Ini dibuktikan dengan adanya data-data pada relief Candi Borobudur dan kitab-kitab kesusastraan yang menjadi petunjuk tentang keberadaan gamelan ini. Dalam perkembangannya, gamelan mengalami banyak perubahan menjadi semakin baik hingga seperti sekarang, tetapi tetap mencirikan budaya bawaanya yang sampai sekarang masih menjadi cirri khan gendingan ini, salah satunya adalah istilah bagi penyanyinya, yaitu Wiraswara untuk penyanyi pria, danWaranggana untuk penyanyi wanita.

Menurut Mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dengan alat musik gamelan pertama yang diciptakan adalah “Gong” yang berfungsi sebagai pemanggil para dewa. Kemudian berkembang sebagai penyampai pesan, dimana alat musiknya pun bertambah.

Saat ini gendingan sudah mendunia, dikenal luas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Canada. Tentunya sebagai generasi pewaris budaya, kita harus lebih peduli menjaga dan melestarikan kekayaan tradisional leluhur. Kitalah yang harusnya lebih mencintai dibandingkan bangsa lain.

***

Dari :

 

 

Diolah dari berbagai sumber.

Sumber gambar: http://sekarjowo.blogspot.com

 

Sejarah batik Indonesia


Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam Literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik,teknologi serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Kemanusian untuk Budaya Lisan dan nonbendawi. (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 oktober 2009.

Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik”

Sejarah teknik batik (wikipedia)

Tekstil batik dari Niya, Tiongkok

Detail ukiran kain yang dikenakan Pranjaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola kembang-kembang yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa kini.

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan diMesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus Mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di  Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti Tang(618-907) serta di India dan jepang semasa Periode Nara (645-794).

Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soikedan Wolof di Senegal. Di negeri kita, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India dan Srilangkapada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A Brandes(arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, flores Halmahera dan papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat Canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Pranjnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatinmenceritakan Laksamana hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmuduntuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku  Histori Of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris  di Jawa semasa  Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di ExpositionUniverselle di  Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke  Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.

Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Proses pembuatan batik
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Batik Pekalongan
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah – daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Musium batik Pekalongan


Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

sumber:

-http://www.batikmarkets.com/batik.php

-http://id.wikipedia.org/wiki/Batik

2 Oktober 2011, adalah hari batik Indonesia di tahun ke tiga


Hari ini 2 Oktober,tiga tahun lalu tepatnya 2009 United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) mengakui batik sebagai milik Indonesia. Penghargaan juga langsung diberikan UNESCO di Abu Dhabi, 2 Oktober tahun 2009. Dalam rangka merayakan momentum pengakuan dunia atas Batik sebagai Hak Milik Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencanangkan 2 Oktober sebagai Hari Batik.

Batik identik dengan kebudayaan tradisional milik Bangsa Indonesia sejak dulu kala. Batik menurut yang saya kutip dari wikipedia yaitu: Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing.

Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

ada sebuah artikel dari koran sindo :

Jangan Sekadar Simbol, Batik Harus Bisa Menyejahterakan Masyarakat

Anggota Dekranasda Jawa Barat bersepeda dengan mengenakan pakaian batik melintasi Jalan Banda, Kota Bandung, kemarin.

Bersepeda dengan mengenakan busana batik, mengapa tidak? Itu yang kemarin dilakukan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat (Jabar).

Menggelorakan semangat batik sebagai identitas bangsa,Dekranasda Jabar menggandeng komunitas Bike to Work Bandung bersepeda menyusuri jalanan dari Gedung Pakuan di Jalan Otto Iskandardinata menuju Gedung Sate, Jalan Diponegoro,Kota Bandung. Acara berlangsung semarak. Iring-iringan pesepeda berseragam batik ini pun menyita perhatian warga.“Mencintai dan bangga pakai batik, terutama bagi kalangan generasi muda,harus terus digelorakan. Karena itu kita akan terus kampanyekan penggunaan batik ini,”ujar Ketua Dekranasda Jabar Nett Heryawan kemarin.

Menurut dia,eventuntuk menyambut Hari Batik Nasional 2 Oktober ini sekaligus untuk menyosialisasikan regenerasi pembatik agar tidak punah.“ Dengan semakin banyak masyarakat memakai batik, tentu akan membuat industri batik bertahan hidup,”imbuhnya. Acara puncak peringatan Hari Batik Nasional akan diselenggarakan di Pekalongan,Jawa Tengah.Pekalongan dipilih karena menjadi salah satu daerah penghasil batik di Indonesia. Ibu Negara Ani Yudo-yono dan sejumlah menteri dijadwalkan hadir dalam acara tersebut dengan agenda mengunjungi museum dan sentra batik.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengatakan,upaya melestarikan batik tidak bisa hanya dengan mengembangkannya, tetapi harus mampu memanfaatkan agar khasanah Nusantara ini bisa menjadi alat menyejahterakan rakyat. Wacik menilai,bila berhenti pada pelestarian,rakyat hanya akan mendapatkan kebanggaan,te-tapi tidak keuntungan material.

“Karya-karya budaya seperti batik,apabila benar me-nanganinya,akan didapatkan nilai ekonominya. Karena itu semakin banyak yang menggunakan batik,itu (nilai ekonomi) akan mengalir ke perajin,”ungkap Wacik pada eventWorld Batik Summit 2011di Jakarta kemarin. Wacik mengatakan,dokumen UNESCO mengenai pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia sudah disimpan di lembaga arsip nasional.

Dengan demikian apabila ada bangsa lain yang hendak mengakui batik sebagai warisan budaya miliknya bisa terbantahkan dengan bukti legal tersebut.Mengenai adanya negara-negara lain yang memproduksi batik,Wacik menyebut hal itu bukan masalah.”Dunia sudah tahu bahwa asal batik adalah dari Indonesia,”tegas menteri dari Partai Demokrat ini. Batik diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 2 Oktober 2009.Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Dari aspek ekonomi,batik terus menjadi primadona bagi perkembangan industri kreatif di Tanah Air.Penjualan batik meningkat dari Rp2,9 triliun pada 2006 menjadi Rp3,9 triliun Rp3,9 triliun pada 2010. Nilai ekspor batik melonjak 56% dari USD16,3 juta pada 2006 menjadi USD22,3 juta pada 2010. TANTAN SULTHON/ DYAH PAMELA

Sumber :

– (http://yaayaat.wordpress.com/2010/10/02/selamat-hari-batik-nasional-2-oktober-2010/)

– (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/432206/)

SELAMAT HARI BATIK INDONESIA.

Pesan Sri Aji Joyoboyo


Salah satu ajaran untuk mencari kesempurnaan hidup (kasampurnaning urip) adalah dengan mempelajari Layang Joyoboyo. Dalam layang tersebut Sri Aji Joyoboyo menuliskan petuah terhadap generasi mudah khususnya bangsa Jawa untuk tidak melupakan ajaran Kejawen. Layang ini ditulis dengan huruf Jawa asli dan terdapat 75 halaman. Apa saja yang bisa kita pelajari? Dan bagaimana bunyi Layang Joyoboyo tersebut? Inilah kutipannya.

makam sri aji joyobo di kediri, jawa timur

HODJOBROLO :1
Gusti ingkang moho welas asih lan moho wicaksono,ugo Gusti uwes maringi pangerten marang bongso jowo lan djalmo manungso kang ono ing jagat iki.tumindakho kang becik marang sapodo padaning urip. ugo tumindakho kang jujur marang gusti nganggo roso kang ono ing rogo siro,semono ugo gusti bakal maringi balesan  marang opo  kang siro lakokake ing bumi mulyo kene,ugo ing bumi sentoso mengkene.
(Gusti yang maha pengasih dan bijaksana, juga Gusti yang memperikan pengertian terhadap bangsa Jawa dan semua manusia di Jagad ini. Bertindaklah yang baik terhadap sesama makhluk hidup. Juga bertindaklah yang jujur terhadap Gusti dengan menggunakan rasa yang ada di ragamu, dengan begitu Gusti akan memberi balasan terhadap apa yang telah kamu lakukan di bumi yang mulya dan sentosa ini)

HODJOBROLO :2
Gusti kang moho mekso,marang ukum kang dadi kekarepane,ugo gusti kang pareng sekso marang sopo kang tumindak cidro. amergo sabdaning gusti kuwi ora ono kang biso ngalang-ngalangi.semono ugo kekarepane gusti.
(Gusti yang maha memaksa, terhadap hukum yang jadi kehendakNYA, juga Gusti yang memberikan siksa terhadap siapa saja yang bertindak buruk. Karena sabdanya Gusti itu tidak ada yang bisa menghalang-halangi, begitu juga kehendakNYA)

HODJOBROLO:3
gusti kang moho kuwoso kang njogo langit  sarto bumi ,semono ugo gusti kang moho kuwoso njogo kahuripan kang katon ono ugo kang ora katon,lan sak isine kang ono ing jagat iki,tanpo kuwasane gusti kang moho suci bakal sirno jagad iki ,semono ugo bakal ora ono kahuripan sak iki.
(Gusti yang hama kuasa yang menjaga langit dan bumi, begitu juga Gusti yang maha kuasa menjaga kehidupan yang tampak juga yang tak tampak, dan semua yang ada di jagad ini, tanpa kuasa Gusti yang maha suci bakal sirna jagad ini, begitu juga bakal tidak ada kehidupan sekarang)

HADJOBROLO:4
gusti kang pareng balesan bongso jowo kang ora melu marang dalane gusti ,lan gusti pareng sabda:siro bongso jowo yen percoyo marang gusti turutono opo kang dadi panjaluke gusti,anangeng yen siro ora percoyo,kasengsarane urip siro bakal teko.
(Gusti yang memberi balasan terhadap Bangsa Jawa yang tidak ikut terhadap aturan Gusti, dan Gusti memberi sabda: Kalian Bangsa Jawa kalau percaya terhadap Gusti ikutilah apa yang menjadi perintah Gusti, tetapi kalau kalian tidak percaya, kesengsaraan hidup kalian bakal datang)

HADJOBROLO:5
gusti uwes maringi sabdo marang aku kang tak tulis ono ing kitab joyoboyo,bongso jowo kabeh kang nglalekake gusti uripe bakal kurang  sandang lan pangan,ugo lemah kang mahune ijo bakal tak garengake koyo mahune nganti akhir siro kabeh nduweni katentreman.
(Gusti sudah memberikan sabda terhadap aku yang kutulis dalam kita Joyoboyo, Bangsa Jawa semua yang melupakan Gusti hidupnya bakal kekurangan sandang dan pangan, juga tanah yang semula subur bakal kering kerontang seperti asalnya hingga akhirnya kalian semua memiliki ketentraman)

HADJOBROLO:6
gusti kang pareng sabdo kajawen diturunake ing tanah jowo soko kuwasane gusti kang moho wicaksono, supoyo bongso jowo kuwi biso nduweni kahuripan kang sampurno ing bumi mulyo kene lan mirangake opo kang dadi panjaluke gusti  anangeng siro biso ngrasake kahuripan yen siro kuwi ing bebayan.
(Gusti yang memberi sabda Kejawen diturunkan di tanah Jawa dari kuasa Gusti yang maha bijaksana, supaya bangsa Jawa itu bisa memiliki kehidupan yang sempurna di bumi yang mulya ini dan mendengarkan apa yang menjadi perintah Gusti dan kalian bisa merasakan kehidupan saat dalam keadaan bahaya)

HODJOBROLO:7
gusti kang njunjung drajat kahuripane kawulo lan iki kang dadio sabdaning gusti marang bongso jowo kabeh,kang iseh mangerteni marang opo kang dadi kekarepane gusti,semono ugo gusti bakal njunnjung derajat kasengsarakane uripe bongso jowo yen bongso jowo kuwi mangerteni ukume gusti.
(Gusti yang menjunjung derajat kehidupan rakyat dan ini yang menjadi sabda Gusti terhadap bangsa Jawa semua, yang masih memahami terhadap apa yang menjadi perintah Gusti, dengan demikian Gusti akan menjunjung derajat kesengsaraan hidup bangsa Jawa ketika bangsa Jawa itu mengerti hukumnya Gusti)

hODJOBROLO:8
siro bongso jowo sejatine nduweni pangomongane gusti kang moho kuwoso kang pareng pepadange kahuripan,supoyo dalan siro kang peteng biso dadi padang,anangeng siro bongso jowo malah ngalekake pangomongane gusti kang tinulis ono kitab joyoboyo.
(Kalian bangsa Jawa sejatinya dipelihara Gusti yang maha kuasa yang memberi terang kehidupan, supaya jalan kalian yang gelap bisa menjadi terang, tetapi kalian bangsa Jawa malah melupakan Gusti yang memelihara kalian seperti yang tertulis di kitab Joyoboyo)

HODJOBROLO:9
siro bongso jowo arep nyuwun opo maneh marang gusti sebab kadegdayan kabeh uwes ono ing rogo siro lemah kang mahune gareng biso telesake ,ugo lemah kang mahune teles biso siro garengake yen siro kuwi percoyo marang kuwasane gusti,sebab kahuripane bongso jowo kang ora percoyo marang gusti bakal nemokake kasengsaran kang gede ing tembe mburine.
(Kalian bangsa Jawa mau memohon apa lagi pada Gusti sebab semua kejadian sudah ada di raga kalian. Tanah yang tadinya kering bisa menjadi basah, juga tanah yang tadinya basah bisa kalian keringkan kalau kalian percaya terhadap kuasa Gusti, sebab kehidupan bangsa Jawa yang tidak percaya terhadap Gusti akan menemukan kesengsaraan yang besar di belakang hari).

HODJOROLO :9
Gusti kang pareng sabdo bongso jowo ,yo kuwi bongso kang wiwitan kang dadi ciptakane gusti kang teko ing bumi mulyo iki kang nggowo kuasane gusti ,sak durunge ono jalmo manungso ,anangeng sabdaning gusti kang uwes katulis ingkitab joyoboyo:siro bongso jowo yen bumi mulyo iki uwes kebak karo jalmo manungso kang dadi ciptakane gusti.siro bongso jowo bakal lali marang agama peparingane gusti marang isine kitab joyoboyo.
(Gusti yang memberi sabda pada bangsa Jawa, yaitu bangsa awal yang menjadi ciptaan Gusti yang datang di bumi yang mulya ini yang membawa kuasa Gusti sebelum ada manusia, sabda Gusti yang sudah tertulis dalam kitab Joyoboyo: Kalian bangsa Jawa jikalau bumi mulya ini sudah penuh dengan umat manusia yang menjadi ciptaan Gusti, kalian bangsa Jawa bakal lupa terhadap agama (tuntunan) pemberian Gusti lewat isi Kitab Joyoboyo)

HODJOROLO 10
Gusti kang moho mriksani marang kedadean kang nyoto,marang tumindake bongso jowo kang ora nerimo marang peparingane gusti kang mohosuci.banjur gusti pareng sabdo:yen tanah jowo katekan jalmo manungso liyo kang dadi ciptakane gusti .agamo jowo lan isine kitab joyoboyo kang ditules bongso jowo bakal tak sirnakake dene kuwasane gusti kang moho suci.
(Gusti yang maha melihat terhadap kejadian yang nyata, pada tindak-tanduk bangsa Jawa yang tidak bersyukur terhadap pemberian Gusti yang maha suci. Maka Gusti akan memberi sabda: Jika tanah Jawa sudah kedatangan manusia lain yang menjadi ciptaan Gusti. Agama (tuntunan) Jawa dan isi kitab Joyoboyo yang ditulis bangsa Jawa bakal aku sirnakan dengan kuasa Gusti yang maha suci)

HODJOROLO:11
Lan bongso jowo ora bakal iso maneh mangerteni marang agamane bongso jowo kang tekane soko gusti.banjur goro goro kuwi teko lan ndadekake kahurioane bongso jowo,lali marang asal usule lan ninggalake marang wekasane gusti kang moho suci kang uwes katulis ono ing kitab joyoboyo kanggone bongso jowo.
(Dan bangsa Jawa tidak bakal bisa lagi memahami terhadap agama (tuntunan) bangsa Jawa yang datangnya dari Gusti. Karena lantaran itu datang dan menjadikan kehidupan bangsa Jawa, lupa terhadap asal-usulnya dan meninggalkan terhadap pesan Gusti yang maha suci yang sudah kutulis dalam kitab Joyoboyo terhadap bangsa Jawa)

HODJOROLO:13
Gusti kang pareng dawoh :bongso kang mahune diparingi kadegdayan marang gusti ,malah ditinggalake. nganti akhire sabdoning guti kuwi teko ,ngrusak kahuripane bongso jowo ,lan bongso jowo sopo wahe kang ora mirengake opo kang dadi kekarepane gusti,ugo ninggalake marang wekasane gusti bakal keno ukumane gusti kang gedhe ,semono ugo siro kabeh bakal ora bakal biso nyuwun panguksumo,kajoboi nrimo marang ukumane gusti kang pareng sikso marang bongso jowo kang uwes katukis ono kitab joyoboyo.
(Gusti yang memberi perintah: bangsa yang tadinya diberi kesaktian oleh Gusti, malah ditinggalkan. Hingga akhirnya sabda buruk itu datang, merusak kehidupan bangsa Jawa, dan bangsa Jawa siapa saja yang tidak mendengarkan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan pesan Gusti bakal terkena hukuman yang besar, begitu juga kalian semua bakal tidak bisa minta ampun, kecuali menerima terhadap hukuman Gusti yang memberikan siksa terhadap bangsa Jawa yang sudah tertulis dalam kitab Joyoboyo)

LAYANG JOYOBOYO (2)
HOSOROPOLO
Gusti pareng dawuh marang aku: siro bongso jowo sejatine uwes diparingi gusti kadegdayan ,kanggo kaperluane siro sak bendinane  awet tanah jowo kang mahune gundul gusti dadekake ijo supyo siro bongso jowo biso krasan marang panggenan kang anyar iki.
(Gusti memberi perintah pada diriku: Kalian bangsa Jawa sejatinya sudah diberi Gusti kesaktian, untuk keperluan kalian setiap harinya karena tanah Jawa yang tadinya gundul dibuat hijau supaya kalian bangsa Jawa bisa kerasan di tempat yang baru ini)

HOSOROPOLO
Anangeng  sabdaning gusti kang tak tulis ono kitab joyoboyo kanggone siro bongso jowo ,gusti pareng dawoh siro bongso jowo bakal ninggalake agomo peparingane gusti kang moho suci,lan gusti pareng sabdo siro bongso jowo bakal lungo adoh kanggo nggoleki asmane gusti ,siro dewe ora bakal duwe ketentreman yen siro kuwi lali marang asmane gusti kang uwes temurun kanggone siro kabeh ing tanah jowo.
(Tetapi sabda Gusti yang kutulis di kitab Joyoboyo bagi kalian bangsa Jawa, Gusti memberi kabar kalian bangsa Jawa bakal meninggalkan agama (tuntunan) pemberian Gusti yang maha suci, dan Gusti memberikan sabda terhadap kalian bangsa Jawa bakal pergi jauh untuk mencari asma (nama) Gusti, kalian sendiri tidak bakal memiliki ketentraman kalau kalian lupa terhadap asma (nama) Gusti yang sudah diturunkan untuk kalian semua di tanah Jawa)

HOSOROPOLO
Sebab sabdoning gusti kang uwes tak tulis ono kitab joyoboyo kanggone siro malah siro tinggalake.menyang monco endi wahe siro lungo lan iki sabdaning gusti ,bongso jowo ora bakal nduwe ketentreman nganti wanci bali ono ing ngersane gusti.
(Sebab sabda dari Gusti yang sudah kutulis di kitab Joyoboyo untuk kalian malah kalian tinggalkan. Pergi keluar negeri mana saja kalian dan ini sabda Gusti, bangsa Jawa tidak bakal memiliki ketentraman hingga saat kembali ke haribaan Gusti)

HOSOROPOLO
Amergo pangerteni gusti kuwi luwih duwur katimbang siro bongso jowo kang diparing gusti : budi, roso,pikiran lan angen2 ,supoyo siro biso mangerteni marang dununge kahuripan kang tekane soko gusti ,anangeng djalmo manungso kang dadi ciptane gusti kuwi,ngendiko marang siro,iki sejatine agamane siro ,sejatine jalmo manungso kuwi ngapusi marang siro sebab siro jalmo manungso wiwitan  teko ono ing jagat kang nggowo agamane gusti.
(Karena pemahaman terhadap Gusti itu lebih tinggi daripada kalian bangsa Jawa yang diberi Gusti: budi, rasa, pikiran dan angan-angan, supaya kalian bisa memahami terhadap keberadaan hidup yang datangnya dari Gusti, tetapi umat manusia yang menjadi ciptaan Gusti itu, berkata terhadap kalian, ini sjeatinya agama kalian, sejatinya manusia itu menipu terhadap kalian sebab kalian adalah manusia pertama yang datang di jagad dengan membawa agamanya Gusti)

HOSOROPOLO
 
Gusti kang pareng sabdo ; bongso jowo kabeh kang ono ing jagat iki bakal ora mirengake maneh marang ngendikane gusti awit sabdoning gusti uwes luweh disik teko.
(Gusti yang memberi sabda: bangsa Jawa semua yang ada di jagad ini bakal tidak mendengarkan lagi terhadap perintah Gusti sebab sabda Gusti sudah datang terlebih dahulu)

HOSOROPOLO
Banyu kang mahune resik bakal dadi reget yen siro bongso jowo kuwli lali marang wekasane gusti ,ugo asmane gusti kang manggon ono ing roso siro.bakal sirno soko kahuripane bongso jowo semono ugo kasumparnane gusti kang papat kang ditetesake ing bumi suci bakal sirno soko kahuripane siro
(Air yang tadinya bersih bakal menjadi kotor jika kalian bangsa Jawa lupa terhadap perintah Gusti, juga asma (nama) Gusti yang tinggal di dalam rasa kalian. Bakal sirna dari kehidupan bangsa Jawa begitu juga empat kesempurnaan Gusti yang diteteskan di bumi suci ini bakal sirna dari kehidupan kalian)

HOSOROPOLO
Gusti kang moho kuwoso kang pareng keslametan dumateng kawulo rino klawan wengi  among panjenengane gusti kulo pasrahaken gesang lan sedoh kawulo sirno bebayan sakeng  kuwoso panjenengan kagem sak lawase lan iki kang dadi sabdaning gusti marang bongso jowo kang isih mangerteni kuwasane gusti.
(Gusti yang maha kuasa yang memberi keselamatan padaku siang dan malam, hanya padaMU Gusti saya pasrahkan hidup dan matiku sirna semua bahaya dari kuasaMU untuk selamanya dan ini yang menjadi sabda Gusti terhadap bangsa Jawa yang masih memahami kuasanya Gusti)

disadur dari :