Mari Nembang untuk si Mungil dengan lagu-lagu Jawa


oleh : http://kedaipuisi.wordpress.com

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.

Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.

Gambang Suling…
Gambang suling kumandhang swarane…
Thulat-thulit kepenak unine…
Unine mung nrenyuhake…
Bareng lan kentrung….
Ketipung suling sigrak gambangane….

 

 

Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.

Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.

Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;

Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan

untuk makna dari gundul-gundul pacul bisa dilihat di :(klik pada logo)

 

 

Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit

untuk makna dari sluku-sluku bathok : (klik logo)

Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.

Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.

Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.

Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.

Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.

Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay

Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.

Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter

Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.

Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.

Bagaimana dengan Ibu-ibu?? atau bapak-bapak yang punya ibu atau istri…hehe, mari nembang untuk si mungil.

Selanjutnya ini ada postingan juga, yamg ngebahas tentang tembang dolanan jawa :

oleh : http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

Mungkin untuk generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengenal Lagu Dolanan (jawa) ini, terutama yang lahir diluar daerah jawa tentunya. Tetapi untuk bapak atau eyang kita tentu sangat akrab dengan lagu dolanan karena memang pada jaman dulu permainan modern belum banyak atau bahkan belum ada seperti Play Station misalnya yang menurut saya membuat anak menjadi individualistis atau senang menyendiri.
Dibanding dengan anak-anak masa dulu yang senang berkumpul melakukan kegiatan diluar rumah.

Berikut sebagian “Lagu Dolanan” yang masih saya ingat :

CUBLAK-CUBLAK SUWENG
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong

Sluku-sluku bathok
Sluku-sluku bathok
bathoke ela-elo
si romo menyang solo
oleh-olehe payung moda
tak jenthir ololobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip nggoleko dhuwit

Gotri nagasari
gotri legendri nogosari, ri
riwul iwal- iwul jenang katul, tul
tulen olen-olen dadi manten, ten
tenono mbesuk gedhe dadi opo, po
podheng mbako enak mbako sedeng, deng
dengklok engklak-engklok koyo kodok

Dayohe Teka
Ei.., dayohe teko,
Ei.., jerengno kloso,
Ei.., klosone bedah,
Ei.., tambalen jadah,
Ei.., jadahe mambu,
Ei.., pakakno asu,
Ei.., asune mati,
Ei.., guwangen kali,
Ei.., kaline banjir
Te Kate Dipanah
Te kate dipanah
Dipanah ngisor gelagah
Ana manuk konde-onde
Mbok sirbombok mbok sirkate
Mbok sirbombok mbok sirkate

Gek kepriye
Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah diece
Karo kanca kancane
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe

Pitik Tukung
Aku duwe pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gok petok petok ngendok pitu
Tak ngremake netes telu
Kabeh trondol trondol tanpa wulu
Mondol mondol dol gawe guyu

Ilir-ilir
Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir Tak ijo royo royo..taksengguh temantèn anyar
Cah angon.cah angon..pènèkké blimbing kuwi , Lunyu-lunyu ya pènèken kanggo masuh dodotira
Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir Dondomana jlumatana kanggo séba méngko soré Mumpung padhang rembulané
Mumpung jembar kalangané Ya suraka..surak horéé

Kate – Kate Dipanah
Te kate dipanah
dipanah ngisor nggelagah
ana manuk ondhe ondhe
Mbok sir bombok bok sir kate
Mbok sir bombok mbok sir kate

Menthok – menthok
Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Kupu Kuwi
Kupu kuwi tak encupe
Mung abure ngewuhake
Ngalor-ngidul
Ngetan bali ngulon
Mrana-mrene mung sak paran-paran
Mbokya mencok tak encupe
Mentas mencok clegrok
Banjur mabur kleper

Cempa
Cempa rowa
Pakananmu apa rowa
Tuku gendhing ndhing ndhing ndhing
Rowang rawing wing wing wing
Bong kecebong jarane jaran bopong
Sing nunggangi Semar Bagong
Ecrek-enong ecrek-egung ecrek-enong ecrek-egung

Jago Kate
Jago kate te te te
Kukukluruk … kok
Amecece ce ce ce
Kukukluruk
Dibalang watu bocah kuncung
Keok … kena telehe
Njranthal … pelayune
Mari umuk mari ngece
Si kate katon nyekukruk

PADANG MBULAN
Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

JAMURAN
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…
jamur apa ya ge ge thok…
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?

KODOK NGOREK
Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali
teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung
Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter
bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo

KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil…
si kidang mangan lembayung

DONDHONG APA SALAK
dhondhong apa salak dhuku cilik cilik
gendong apa mbecak mlaku thimik thimik
adhik ndherek ibu tindak menyang pasar
ora pareng rewel ora pareng nakal
mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
kacang karo roti adhik diparingi

PITIK TUKUNG
Aku duwe pitik, pitik tukung..
saben dina, tak pakani jagung
petok gogok petok petok ngendhog siji,
tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol..
tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu…

JARANAN
jaranan-jaranan… jarane jaran teji
sing numpak ndara bei
sing ngiring para mantri
jeg jeg nong..jeg jeg gung
prok prok turut lurung
gedebug krincing gedebug krincing
prok prok gedebug jedher

GUNDHUL-GUNDHUL PACUL
Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan
nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

MENTHOK-MENTHOK
Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,
angisin-isini mbok yo ojo ngetok,
ono kandhang wae enak-enak ngorok,
ora nyambut gawe
menthok, menthok …
mung lakukumu megal megol gawe guyu

GAMBANG SULING
Gambang suling, ngumandhang swarane
tulat tulit, kepenak unine
uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangane

SUWE ORA JAMU
Suwe ora jamu
jamu godong tela
suwe ora ketemu
ketemu pisan gawe gela

TAK LELO LELO LEDUNG
tak lelo lelo lelo ledung…
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadarikaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..

Ada yang mau nambahi, lah su Monggo,…!!! hehe…


Sumber :

– http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/05/belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://www.lazis.info/perlu-kita-tahu/196.html

– http://my.opera.com/suryagunawan/blog/lagu-dolanan

– http://kyaicengkir.wordpress.com/2011/09/22/httpsosbud-kompasiana-com20100805belajar-dari-tembang-dolanan/

– http://punyabagus.blogspot.com/2008/06/rek-ayo-rek.html

– http://gombhalmukiyo.blogdetik.com/makna-di-balik-tembang-gundul-gundul-pacul/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s