Suluk-suluk Sunan Bonang


Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.
Apa itu suluk? suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).


Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (Ibid).
Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).
Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.
Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, yaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia yaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat diumpamakan seperti kesatuan transenden antara tindakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamaan ini dapat dirujuk kepada perumpamaan serupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mukmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

Suluk Jebeng
Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil
Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil (SW). Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.
Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.

Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba
2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun
Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada
3
Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan

4
Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada
5
Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning
Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora
Artinya, lebih kurang:
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahasia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya Sudah
Wujil Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblat dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu unik, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.

Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat
7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta
8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman
9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira
… 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama
Artinya lebih kurang:
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Ked,ua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).

sumber : http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-1.html,

http://aindra.blogspot.com/2007/11/suluk-suluk-sunan-bonang-2.html,

http://ilalangkota.blogspot.com/2011/04/suluk-wragul-sunan-bonang.html

Kidung Rumeksa Ing Wengi


Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

disadur dari :

Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

sumber :

- Sunan Kalijaga

- http://www.indospiritual.com

- http://herdoniwahyono.blogspot.com

Oleh : Blog-suwandono

MENATAP zaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi nenek moyang kita jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman).

Salah satu alternatif dari sumbangan orang Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca ”Kidung Rumekso Ing Wengi”(KRIW), yang merupakan karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering dilantunkan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi.

Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.

Laku kidung ini mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain; Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. Pembebas semua benda . Pemyembuh penyakit, termasuk gila. Pembebas pageblug. Pemercepat jodoh bagi perawan tua. Menang dalam perang . Memperlancar cita-cita luhur dan mulia.

Siapa yang tidak ingin selamat dalam hidupnya ? Semua manusia ingin selamat. Tidak ada yang ingin celaka. Ucapan “selamat ” diucapkan dalam berbagai bahasa di dunia. Assalamu ‘alaikum, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam; good morning, good night dan sebagainya. Manusia bila bertemu saling mendoakan agar masing-masing selamat (assalamu ‘alaikum). Selamat dirinya, keluarganya, harta bendanya. Uangnya ditaruh di lemari besi, didepositokan di bank biar selamat. Pakai helm standar dan sabuk pengaman bila berkendaraan motor atau mobil. Pakai rompi anti peluru, CCTV, alat detektor logam dan bahan peledak, payung cadangan, tangga darurat, alat peringatan dini gelombang tsunami, kamuflase, jasa pengawalan, pengawal pribadi atau bodyguard yang kesemuanya itu dengan tujuan ingin aman atau selamat.

Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh manusia agar selamat, diantaranya melalui doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti mantra atau doa keselamatan yang terkandung dalam Kidung Rumeksa ing Wengi. Mantra atau doa ini tercantum dalam Buku Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga karangan Achmad Chodjim Penerbit PT. Serambi Ilmu Semesta Jakarta.

download mp3 :: Kidung Rumeksa Ing Wengi

Jawa dalam agama dan budaya


Oleh :: Rangga Dusy

Sebagian besar orang Jawa berusaha menyelaraskan berbagai konsep pandangan leluhurnya dengan tata cara yang diajarkan Islam. Hal ini bisa dilihat dari penyaduran orang Jawa dengan alam kodrati (dunia fana) dan alam adi kodrati (alam gaib), sehingga lahirlah ritual ruwatan Jawi-Islami yang mengusung konsep Islami namun tetap dibumbui tradisi dan adat Jawa. Seperti halnya larung (sesaji yang biasa dipersembahkan di laut atau sungai-sungai besar), kendhuri atau selamatan (melakukan doa bersama dan bersedekah sebagai ungkapan rasa syukur atau agar diberi keselamatan), dan sebagainya.

Jauh sebelum agama-agama masuk ke Jawa, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal dan berkeyakinan bahwa ada seseorang atau sesuatu yang menjadikan dan mengatur alam serta seisinya yang layak untuk dijadikan Tuhan. Sehingga ketika agama-agama baru masuk ke Jawa, tak pernah sedikitpun terjadi bentrokan yang disebabkan dari penolakan masuknya agama tersebut. Karena sudah menjadi tabiat orang Jawa dulu, mereka tak pernah berpikir tentang imbas akulturasi ataupun asimilasi yang sehingga bisa melunturkan adat-istiadat yang sudah terlaku turun temurun.


Pola berpikir seperti ini tak lain merupakan upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara sesama makhluk yang tersebar di jagat raya ini, lantas membawanya ke suatu pengembaraan yang tak pernah berhenti. Sehingga ketika ada hal-hal baru yang mereka anggap bisa menunjukan jalan menuju titik cerah perjalanannya, pastilah mereka ikuti. Sebagaimana pengembaraan iman yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim as. ketika pertama kali beliau keluar dari goa persembunyiannya. Saat melihat bintang, beliau berkata: “Inilah Tuhanku,” kata Nabi Ibrahim. Namun, ketika tenggelam beliau berkata, “Tuhanku bukanlah yang tenggelam.” Kemudian ketika bulan muncul, maka beliau berpikir bahwa Tuhan adalah bulan. Demikian pula ketika bulan tenggelam dan terbitlah matahari, beliau beranggapan bahwa Tuhan adalah matahari, karena lebih besar dan terang. Setelah semua hilang dan redup silih berganti, terbukalah beliau bahwa Tuhan bukanlah seperti yang dipersekutukan para kaumnya (Lihat QS. Al-An’am 76-69).

Begitu pula yang terjadi pada orang Jawa pra-agama. Dari pengembaraan mereka mencari kebenaran Sang Hyang Murbaning Dumadi, muncullah beberapa keyakinan seperti halnya animisme dinamisme, yaitu penyembahan terhadap roh dan benda-benda yang memberi tuah dan memiliki kekuatan. Kepercayaan seperti ini terjadi, karena mereka berfikir bahwa adanya perjalanan alam dan isinya ini tentu ada yang menciptakan dan mengatur agar terjadi stabilitas antar sesama. Faktor seperti inilah yang menjadikan masyarakat Jawa dapat cepat beradaptasi dengan kedatangan agama-agama yang baru.

Cara berinteraksi budaya Jawa dengan Islam tergolong unik. Dalam penyebutan apapun yang diyakini suci atau dipandang mulia, mereka memberikan sebuah apresiasi maha tinggi, sebagaimana penyebutan Tuhan dengan Gusti Allah Ingkang Murbaning Dumadi dan juga keyakinan bahwa Rasul Saw sangat dekat dengan Allah, sehingga hampir dalam semua upacara ritual mereka selalu menyebutkan nama Allah Kang Moho Kuwaos dan Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sumare wonten siti Madinah (Koentjaraningrat)
Peng-islam-an masyarakat Jawa tidaklah terlalu sulit. Karena, selain penyebar Islam kala itu kebanyakan adalah kalangan Islam sufi yang tidak membekali diri dengan ilmu kepemimpinan dan tidak menginginkan kepemimpinan, juga dilatar belakangi jiwa seni dan sastra masyarakat Jawa. Sehingga ketika para Walisongo dengan dipandegani Sunan Kalijaga menyebarkan agama dengan media seni wayang, gamelan, dan sastra Arab, yang dibaurkan dengan budaya Jawa, dapat diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Tingginya nilai seni dan sastra bagi masyarakat Jawa telah ada sebelum agama Islam masuk. Dengan bukti adanya candi dan relif-relif kuno, serta banyaknya kaligrafi ukir dan serat yang dibuat oleh para pujangga. Setelah Islam masuk, kesenian dan kesustraan Jawa mulai dikolaborasikan oleh Walisongo. Dimulai pertama kali dengan wujudnya seni wayang dan gamelan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga tersebut, berlanjut dengan sastra yang diramu oleh Sunan Kalijaga dalam media dakwahnya.

Sesaat setelah kolonial Belanda merangsek masuk ke Indonesia, kesenian dan kesustraan Jawa mulai tersisihkan. Karena kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh pemerintah kolonial saat itu memang menyulitkan masyarakat untuk berkutat di bidang seni dan sastra. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang merasa prihatin dengan kondisi demikian. Kala itu, sedikit demi sedikit Sultan Agung mulai membuat strategi guna merangsang para pujangga Jawa untuk mengimprovisasikan sastra. Guna menggairahkan jiwa seni dan sastra, Sultan Agung mencoba membaurkan sastra Arab dari lingkungan pesantren dan sastra Jawa dari budaya kejawen. Akhirnya, strategi Sultan Agung itu berhasil, sehingga muncullah hasil kreatifitas para pujangga yang dituangkan dalam bentuk tembang macapatan dan serat seperti halnya serat centhini, babad tanah demak, dan lain sebagainya.

Kemudian kala seni dan sastra Jawa mulai bangkit lagi dengan pembauran berbagai bahasa dan budaya, maka timbullah sastra Jawa yang digubah kembali dengan menyatukan sastra Jawa kuno yang diperhalus dengan unsur-unsur yang berbau sufistik. Sebagaimana ramalan-ramalan Ranggawarsita tentang kejadian alam yang disarikan dari al Quran dan Hadis.

Terahir, sebagaimana ;

“Tumindakho kang djudjor marang roso siro. Awet roso kuwi tjahyoning Gusti kang moho sutji. Kang manggon ono ing rogo siro, odjo diregetake.”

                                                             

Petilasan Joyo boyo di Kediri

Arti bebasnya kurang lebih demikian; berbuatlah jujur pada dirimu sendiri, karena dari situlah munculnya cahaya Tuhan yang Maha Suci, yang menetap dalam ragamu. Janganlah kau kotori.

(http://misykat.lirboyo.net/jawa-dalam-agama-dan-budaya/)

Wayang, Agama dan Budaya


Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau jawa dan pulau Bali.

Unesco, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanit).

Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Dalam daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.

Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Begitu juga ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber cerita berasal dari Alkitab.

Dalam islam, wayang merupakan tontonan dan juga tuntunan.

Seperti dalam artikel yang telah diterbitkan Majalah Misykat, 24 0ktober 2011 oleh : Rangga Dusy

Kehidupan manusia sepertinya tak dapat dipisahkan dari ibarat atau simbol. Salah satu simbol penting yang bersentuhan langsung dengan gerbang kehidupan manusia adalah wayang. Segala macam yang berhubungan dengan wayang, mulai dari adegan dan lakon, wayang kulit, peralatan pentas (blencong, beber, dll), pembabakan waktu, dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir (batang pisang untuk menancapkan wayang), semuanya memiliki makna penting yang sayang untuk tidak diketahui dan dilestarikan.

Wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang suku Jawa tentang kehidupan manusia. Mereka meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi atau bayangan (jawa; Wewayangan/ wayang). Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen (animisme). Namun setelah agama-agama masuk ke Jawa, wayang berubah wujud menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan muncullah nama-nama lakon yang disesuaikan oleh agama-agama yang mengusung dan bermetamorfosis dengan perkembangan zamannya.

Menurut Prof. Dr. Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, “Wayang merupakan kebudayaan asli dari orang Jawa.” Wayang juga merupakan satu-satunya kebudayaan yang memasyarakat, karena dalam wayang tidak mengenal istilah kultur ataupun kasta. Seperti dikatakan oleh Sigmund Frued, “Kebudayaan Indonesia menunjukkan dorongan yang lebih manusiawi. Historis kebudayaan Indonesia menampakkan pola ke arah dorongan spiritual, wayang sebagai salah satu hasil kebudayaan asli Indonesia menunjukkan pola spiritual itu.”


Di era modern ini, dunia pewayangan merupakan sebuah kesenian yang sangat langka. Wayang merupakan warisan budaya klaksik yang sudah mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yaitu sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita, sehingga bisa terbeber jelas dalam hati si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, namun masih ada pakemnya. Secara leksikon (kosakata), wayang bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang.

Dalam dunia seni, apa pun wujudnya, setidaknya mempunyai delapan fungsi sosial yang amat penting. Kedelapan fungsi sosial tersebut adalah: sarana kesenian, sarana hiburan santai, sarana pernyataan jati diri, sarana integrative (pembauran), sarana terapi/ penyembuhan, sarana pendidikan, sarana pemulihan ketertiban, dan sarana simbolik yang mengandung kekuatan magis/ ritual.

Makna di balik pementasan wayang
Selain sebagai tontonan yang menghibur, dalam seni wayang juga menyimpan makna filosofi yang terkadang menarik pada dunia mistik. Hal ini bisa disarikan dari instrumen pementasan wayang. Peralatan yang diusung oleh dalang ini bukanlah sekedar pelengkap belaka. Berikut adalah uthak-athik-gathuknya;

Dalang, peran dalang dalam pewayangan adalah mengatur jalannya sebuah cerita. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa jalan. Dalang adalah perumpamaan dari pemimpin adat, spiritual, pemerintahan, kepala keluarga dan seterusnya. Ini adalah pengibaratan bahwa sesungguhnya semua ciptaan Tuhan di bumi tidak akan pernah bisa berjalan tanpa adanya Khalifah (pemimpin), yang selalu menunjukkan jalannya kehidupan. Bisa juga dalang diibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, dan kelakuan dari tokoh kehidupan (makhluk). Namun secara linguistik, kata dalang merupakan pengalihan dari bahasa Arab “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut.

Beber (layar putih tanpa noda), adalah penggambaran asal bumi yang suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki beber, maka dengan sendirinya bumi akan terkontaminasi dengan perwatakan dari makhluk itu sendiri. Itulah yang akan menjadikan penilaian subyektif tentang bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan putih kembali. Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk pun diluluh lantakkan dari atas bumi ini.
Kelir (batang pohon pisang), ini adalah penggambaran sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa ada wayang yang ditancapkan. Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang tidak dibeber, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah. Nilai filosofinya adalah; raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap.

Wayang, dalam pembuatannya, wayang sangatlah beragam bentuknya. Ada yang bagus, ada yang menyeramkan, dan ada yang lucu. Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang. Pertama, wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka, dan yang kedua adalah wayang yang aslinya dan dipegang oleh dalang. Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua dimensi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk dan ada yang tidak (sirri), namun selalu digenggam oleh sang ‘dalangnya’.

Blencong (lampu penerang di depan layar), pengibaratan dari blencong adalah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa ada blencong, wayang pun takkan bisa jalan, walaupun sudah menancap di atas kelir. Begitu pula tanpa cahaya kehidupan, jiwa dan raga dari makhluk pun takkan bisa hidup. Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milih Sang Hyang Murbaning Dumadi (Allah).

Pethi (kotak kayu), berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati. Ini mengibaratkan sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati. Walau hidup seperti apa pun juga, kita akhirnya pun akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap.

Kemudian dalam pementasannya, lakon dan alur cerita tidak bisa begitu saja dilakukan oleh dalang, harus melalui beberapa pertimbangan. Misalnya, kepercayaan masyarakat di tempat pementasan dan juga tujuan dari pagelaran itu sendiri (ruwatan, larung, atau mungkin juga wangsit dari penanggap atau dalang).

Pesan agama dalam budaya
Goro-goro……
Goro-goro jaman kolo bendhu
Wulangane agomo ora digugu
Sing bener dianggep kliru, sing salah malah ditiru
Bocah sekolah ora gelem sinau
Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru
Pancen perawan saiki ayu-ayu
Ono sing duwur tor kuru, ono sing cendek tor lemu
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.
(Dikutip dari wikipedia.id/ urip.wordpress.com)

 

Arti bebasnya kurang lebih begini; kegegeran jaman edan (modern) , ajaran agama sudah tidak dihiraukan, yang benar dianggap keliru, yang salah malah diikuti, anak sekolah sudah enggan belajar, kalau dinasehati marah, sedangkan ketika tidak lulus sekolah malah memukuli guru, memang perawan sekarang cantik-cantik, ada yang tinggi langsing, ada yang pendek dan gemuk, sayang sekali sukanya mengumbar paha)
Kutipan syair goro-goro di atas menjelaskan tentang goro-goro yang ada di pewayangan. Ada sisi menarik tentang munculnya goro-goro, selain selalu muncul di tengah malam, juga ditandai dengan gunungan. Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi, “geni dadi sucining jagad”, yang mempunyai arti 3441 dan dibalik menjadi angka 1443. Ini sebagai tanda bahwa gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka.

Gunungan (wayang yang disimbolkan sebagai alam dan isinya dengan bentuk lonjong bergambar hutan, pohon sembilan cabang, hewan buas, rumah joglo, dua raksa penjaga gerbang, api, angin, air, dan tanah) yang digambarkan unik oleh Sunan Kalijaga bukan sekedar kreativitas dalam seni ukir belaka. Selain keunikan bentuknya, juga mempunyai nilai mistis maha tinggi, yaitu perwatakan dari isi seluruh alam dan sangkan paraning dumadi (asal mula kehidupan).

Berawal dari kemunculannya selalu di tengah malam – hal ini menyiratkan pada keyakinan orang Islam atau pun Jawa bahwa pertengahan malam yang akhir adalah waktu yang paling tepat untuk mediasi berdoa, muhasabah, dan tafakkur – juga muncul setelah terjadi perselisihan dan peperangan seru antara tokoh dalam pewayangan atau ketika pergantian lakon. Hal itu menunjukkan bahwa semua hal dalam kehidupan tokoh, kembali pada alam dan sang pengendali gunungan.

Setelah gunungan dan goro-goro lewat, muncullah tokoh empat punakawan (bukan empat sekawan). Arti dari Punakawan – terdiri dari Ki Lurah Semar Badranaya atau Sang Guru Sejati, Ki Nala Gareng, Ki Lurah Bagong, dan Ki Petruk Kanthong Bolong– adalah “Kawan yang menyaksikan” atau “Pengiring”. Dalam hukum agama Islam, saksi dalam sebuah masalah yang terbanyak adalah 4 orang saksi, dan minimal adalah dua orang saksi.

Bentuk dari punakawan merupakan perwujudan dari macam-macam bentuk perwatakan manusia. Selain itu, dalam pewayangan Sunan Kalijaga, nama-nama dari punakwan terlahir dari intisari al Quran. Peranan Punakawan sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan. Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia dan merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Dalam uthak-athik-gathuk ala kejawen, penggambaran punakawan sebagai berikut;
Semar; tubuhnya bulat, selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya, simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya, sebagai simbol suka dan duka. Kuncung di kepala adalah perlambangan bahwa manusia haruslah menggunakan akal budinya dalam menimbang-nimbang semua permasalahan, sebagai simbol pria dan wanita. Namun, dalam istilah pewayangan yang dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, Semar adalah gubahan dari lafadz “Simaar”, yang berarti “Paku”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi paku. Siap untuk dipukul guna merekatkan kayu dan dipukul ketika menyembul keluar dari kayu. Ini menyiratkan bahwa seorang muslim haruslah bisa menjadi mediator (penyambung) dari semua golongan tanpa pandang bulu. Ciri yang menonjol dari Semar adalah kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.

Gareng; ciri yang menonjol dari punakawan ini adalah berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa (simbol) dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Kemudian bermata kero yang merupakan kewaspadaan. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain dan teliti. Ketiga cacat tubuh tersebut menyimbolkan rasa. Gareng juga diambilkan dari bahasa Arab “Qariin”, yang berarti teman. Pesan yang tersarikan dari ciri fisik Gareng menunjukkan, bahwa kita haruslah mencari teman yang selalu berhat-hati dalam bertindak, waspada, dan tidak suka mengambil hak orang lain.

Petruk; ia adalah nama lain dari Dawala. Dawa berarti panjang, La dari kata Ala yang berarti jelek. Semua bentuk tubuhnya panjang, berkulit hitam, pokoknya jelek semua. Namun, perlambangan dari petruk adalah memandang dan berpikir panjang dalam segala hal, tidak grusa-grusu (ceroboh) dan mempunyai kesabaran yang luas. Dalam khazanah Arab, Petruk berasal dari kata “Fatruk Kullu Man Siwallah”, yang berarti “tinggalkan semua makhluk selain Allah.” Petruk merupakan simbol dari karsa, kehendak, dan keinginan yang digambarkan dalam kedua tangannya yang panjang. Jika digerakkan, tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih (agama/ ideologi).

Bagong; tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal. Gaya bicaranya terkesan ceplas-ceplos dan semaunya sendiri. Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama, namun tangguh. Dalam literatur bahasa Arab, Bagong berasal dari kata “Baghaa”, yang berarti “berontak”. Bagong merupakan bentuk dari karya. Hal itu disimbolkan dari kedua telapak tangan yang kelima jarinya terbeber lebar, yang berarti selalu siap sedia untuk bekerja keras.

Dari keempat simbol dari punakawan ini (cipta, rasa, karsa dan karya), tidak bisa dipisah antara satu dengan yang lainnya. Karena, keempat simbol itu merupakan intisari dari kepribadian dan jati diri manusia, yaitu berfikir jernih, berhati tulus, bertekad bulat, dan bekerja keras. Sehingga bisa menjadikannya sebagai manusia yang ideal, baik di hadapan makhluk yang lainnya, dan di hadapan Tuhan. Sungguh menarik bukan?

(http://misykat.lirboyo.net/wayang-tontonan-yang-jadi-tuntunan/)

(http://ribathnurulhidayah.org/2011/wayang-metode-penyebaran-dakwah-wali-songo/)